
Renovasi Kelas Profesi FPsi UNM
Sumber: Dok. LPM Psikogenesis
Psikogenesis, Senin (17/11) – Proses rekonstruksi yang tengah berlangsung di lingkungan Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) menimbulkan keluhan dari sejumlah mahasiswa. Aktivitas Pembangunan yang menimbulkan suara mesin dan ketukan palu dianggap menganggu konsentrasi selama proses belajar mengajar berlangsung.
Rekonstruksi meliputi penyelesaian ruang kelas BB 106, perbaikan seluruh fasilitas toilet, serta renovasi laboratorium diagnostik, komputer, dan faal. Fakultas juga merencanakan renovasi tangga gedung BM serta penyiapan ruang kantor dan kelas profesi dibawah ruang BM 201 dan BM 202 sebagai prioritas dan penyediaan lahan parkir di samping Daycare.
MM, mahasiswa Angkatan 2024, mengungkapkan bahwa suara bising membuat dirinya sulit untuk fokus dengan proses belajar mengajar.
“Saya terganggu saat sedang fokus mendengarkan penjelasan. Distraksi dari luar (baca: proses rekonstruksi) mengganggu atensi saya untuk fokus mendengarkan materi,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan A, mahasiswa Angkatan 2023. Ia menuturkan bahwa suara bising mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar di kelas.
“Pada saat proses belajar mengajar, suara palu itu kedengaran sekali dari kelas dan sangat menggangu proses belajar mengajar. Kami selaku mahasiswa dan juga dosen merasa terganggu. AC (baca: pendingin ruangan) juga goyang-goyang saat proses pengerjaan sehingga teman teman takut untuk dekat-dekat dengan tembok,” tuturnya.
A menyampaikan harapannya agar pengerjaan proyek dapat dijadwalkan di luar jam kuliah untuk meminimalisir ketidaknyamanan proses belajar mengajar.
“Memang tujuannya fakultas bagus ingin memperbaiki fasilitas yang ada di fakultas psikologi, tapi alangkah baiknya proses pembangunan bisa dilakukan di luar jam kuliah agar tidak menganggu proses belajar, sehingga pembangunan dan pembelajaran bisa selaras,” harapnya.
Sejalan dengan pernyataan A , Mahasiswa AN Angkatan 2025 turut memberikan usulan agar pekerjaan konstruksi dihetinkan sementara ketika perkuliahan berlangsung.
“Sebenarnya solusinya itu ketika ada proses belajar mengajar di ruangan tertentu, sebaiknya jangan dulu ada konstruksi yang menyebabkan suara. Atau sebaiknya dapat dikerjakan di waktu-waktu yang tidak padat pembelajaran,” usulnya.
Menanggapi keluhan mahasiswa, Lukman selaku WD II FPsi UNM sekaligus yang terlibat dalam proses perencanaan anggaran dan koordinasi teknis menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan proyek telah ditentukan berdasarkan mekanisme universitas dan tidak dapat ditunda.
“Pelaksanaan kegiatan itu tidak bisa ditunda karena anggarannya cair setelah mahasiswa sudah kuliah. Saya hanya mengusulkan kegiatan agar anggaran bisa tersedia. Setelah disetujui, pelaksanaannya ditentukan oleh universitas,” jelasnya.
Lebih lanjut, Lukman menambahkan bahwa sebagian pekerjaan dipindahkan ke malam hari atau akhir pekan, namun tidak seluruhnya dapat dilakukan di luar jam kerja karena adanya kontrak dan keterbatasan anggaran.
“Kalau tukang kerja di malam hari, biayanya berbeda karena dihitung lembur. Sementara anggaran yang disetujui hanya untuk jam kerja normal, jadi tidak bisa semua dikerjakan di malam hari,” tambahnya.
Terkait target penyelesaian proyek, Lukman menjelaskan bahwa seluruh kegiatan rekonstruksi di FPsi UNM harus selesai sebelum (02/12) mendatang, sesuai dengan batas akhir tahun anggaran universitas.
“Tahun anggaran ditutup tanggal dua Desember, jadi semua pekerjaan harus selesai sebelum itu. Kalau lewat, ada denda setiap hari keterlambatan. Itu semua sudah ditulis di kontrak,” jelasnya.
Sebagai penutup, Lukman menegaskan bahwa tanggung jawabnya terbatas pada perencanaan dan pencairan anggaran, bukan pada kebijakan yang berkaitan dengan Kemahasiswaan.
“Tugas saya hanya menyiapkan dan memastikan anggaran sesuai prosedur. Soal kegiatan akademik dan mahasiswa, itu bukan bagian saya,” tutupnya.
(SKY)












