
Dokumentasi Relawan Evakuasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Sumber: Dok. Pribadi
Psikogenesis, Senin (26/01) — Ahmad Fadhil Mubarak, relawan dari Komunitas Mahasiswa Pemerhati Bumi Nusantara (Marabunta) turut terjun langsung dalam operasi pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh pada kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dirinya menjadi bagian tim evakuasi sejak hari ketiga operasi dilaksanakan, pada Senin (19/01) hingga operasi resmi dinyatakan selesai pada Jumat (23/01).
Mahasiswa yang akrab disapa Fadhil tersebut menjelaskan bahwa dirinya terjun langsung ke medan operasi selama empat hari, termasuk satu hari perjalanan, yakni sejak Senin (19/01) hingga Jumat (23/01), setelah informasi kejadian diterimanya pada Sabtu (17/01). Namun dirinya tidak berkesempatan terjun langsung sejak hari pertama dimulainya operasi evakusasi.
“Awal mula saya bisa terjun itu dari perolehan informasi dulu, saya pribadi dapat infonya dari beberapa media massa yang lumayan masif tersebar sejak hari Sabtu. Nah tapi tidak sempat terjun langsung sejak hari pertama dikarenakan saya pribadi masih menjalani beberapa kegiatan akademik di perkuliahan,” jelasnya.
Lebih lanjut Fadhil menerangkan bahwa kondisi yang dihadapi pada saat di lapangan selama proses pencarian terbilang ekstrem. Jalur yang curam dan terjal, ditambah cuaca buruk berupa badai dan kabut tebal sejak hari pertama hingga hari keenam yang menjadi tantangan utama bagi seluruh tim di lapangan. Cuaca baru mulai membaik pada hari ketujuh yang turut mendukung kelancaran proses evakuasi.
“Untuk proses dan kejadian yang saya pribadi serta rekan-rekan tim evakuasi hadapi selama empat hari bisa dibilang memang kondisi medan di sana memang curam, terjal kemudian kondisi cuaca juga dari hari pertama sampai hari keenam itu badai disertai kabut tebal. Nah, baru pada hari ketujuh, cuaca mulai bersahabat dan mendukung,” sambungnya.
Berdasarkan penuturannya, Fadhil mengungkapkan bahwa prosedur evakuasi korban kecelakaan Pesawat ATR 42-500 dinyatakan berakhir, ditandai dengan penemuan dua korban terakhir dari kejadian tersebut pada Jumat (23/01) yang diwarnai tangis haru dari beberapa tim evakuasi, menjadi akhir dari proses evakuasi yang telah dilakukan.
“Alhamdulillahnya semua korban telah ditemukan, yang mana dua korban terakhir itu ditemukan di hari Jumat, tepatnya pada pukul 09.00 pagi waktu setempat. Pada hari itu juga setelah seluruh korban dinyatakan telah ditemukan, disaat yang bersamaan juga operasi pencarian dinyatakan selesai yang saat itu beberapa dari tim menangis terharu dikarenakan telah melakukan tugas yang terbilang mulia,” ungkapnya.
Fadhil juga menambahkan bahwa keterlibatannya dalam operasi ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena merupakan kali pertama ia terjun langsung dalam misi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat. Berbagai kendala yang dihadapi di lapangan justru menjadi pembelajaran berharga dan bekal penting untuk menghadapi situasi serupa di masa mendatang.
“Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan. Dikarenakan ini adalah kali pertama saya pribadi terjun langsung ikut ke dalam operasi pencarian. Namun, bukan tidak mungkin saya pribadi juga menghadapi beberapa kendala pada saat di lokasi, tetapi dari kendala yang saya hadapi, saya pribadi menjadikan hal tersebut sebagai bahan pembelajaran serta bekal yang nantinya mungkin akan berguna ketika menghadapi situasi serupa,” tambahnya.
Sebagai penutup, ke depannya Fadhil berharap kejadian yang serupa tidak terjadi lagi serta solidaritas antar anggota Mapala dan relawan tetap terjaga, khususnya ketika terjadi situasi darurat yang membutuhkan keterlibatan langsung dalam membantu operasi pencarian dan pertolongan yang dilakukan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) maupun tim Search and Rescue (SAR) lainnya.
“Harapan saya ke depannya, semoga kejadian seperti kemarin itu tidak terulang. Kemudian, saya juga berharap untuk teman teman Mapala tetap menjaga solidaritas, apalagi ketika terjadi hal-hal yang kiranya pihak-pihak seperti BASARNAS, SAR membutuhkan bantuan langsung dari teman teman Mapala di lapangan atau bahkan lokasi kejadian,” harapnya.
(KJ)












