Penulis Nur Ismy Latif, Nur Fakhirah Mirsyah, dan Nur Ismi Winda Sari Muis
Sumber: Dok. Pribadi
PENDAHULUAN
“When everything is trauma, nothing is trauma.” Saat ini, istilah “trauma” kian kehilangan ketajaman makna klinis akibat penggunaannya yang berlebihan di media sosial. Konsep psikologis yang semula terbatas pada ranah klinis kini digunakan tanpa pemahaman konseptual yang memadai (Pandell, 2022). Fenomena ini dikenal dengan fenomena concept creep yaitu perluasan makna hingga mencakup pengalaman emosional yang ringan dan ambigu (Haslam, Tse, & Deyne, 2021). Akibatnya, ketidaknyamanan sehari-hari sering disetarakan dengan luka psikologis yang serius. Esai ini menegaskan bahwa normalisasi tersebut tidak hanya mengaburkan batas ilmiah trauma, tetapi juga berpotensi menyepelekan pengalaman penyintas trauma yang sesungguhnya.
Permasalahan muncul ketika istilah trauma digunakan untuk menggambarkan hampir seluruh pengalaman emosional negatif, mulai dari kegagalan akademik hingga konflik interpersonal ringan (Compton dan Humphreys, 2023). Dalam kerangka concept creep, perluasan makna ini tidak semata-mata disebabkan oleh kesalahan individu, melainkan oleh pergeseran norma bahasa dalam mengekspresikan penderitaan yang dirasakan secara subjektif (Haslam dkk., 2021). Padahal, secara klinis, trauma merujuk pada paparan terhadap peristiwa yang bersifat ekstrem dan mengancam, yang umumnya disertai perasaan tidak berdaya serta kehilangan kontrol (American Psychiatric Association, 2013). Penyamaan berbagai pengalaman tidak menyenangkan dengan trauma psikologis menyebabkan batas antara stres, distres emosional, dan trauma menjadi semakin kabur, sehingga berisiko melemahkan keparahan psikopatologi pada trauma yang kompleks (Lewis, Koenen, Ambler, Arseneault, Caspi, Fisher, Moffitt, & Danese, 2021).
ISI
Berbagai publikasi media dan kajian ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan istilah trauma dalam budaya populer meningkat secara signifikan. Pandell (2022) mencatat bahwa trauma telah menjadi kata kunci dominan dalam konten media sosial, terutama pada platform berbasis video pendek. Fenomena ini terlihat dari tagar TikTok #traumadump. Kreator membagikan pengalaman “trauma” melalui sketsa singkat atau “story time” yang telah ditonton lebih dari 31 juta kali. Sementara itu, tagar #trauma mencapai 6,2 miliar penayangan yang menunjukkan bahwa diskusi tentang trauma bukan sekadar tren sesaat tetapi topik yang menjangkau audiens global.
Penelitian Woolard, Paciente, Munro, Wickens, Wells, Ta, Mandzufas, & Lombardi (2024) menganalisis 250 video bertagar #trauma di TikTok. Mayoritas konten tidak menyertakan konteks klinis atau rujukan profesional. Hanya 15,9% video dibuat oleh pakar dan banyak yang tidak mengungkapkan kualifikasi. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya potensi penyalahgunaan istilah “trauma” di media sosial. Fakta ini menegaskan bahwa penyalahgunaan istilah trauma bukan sekadar kekeliruan individual, melainkan fenomena sosial yang sistemik dan berdampak langsung pada cara masyarakat memahami kesehatan mental.
Trauma secara klinis memiliki definisi yang spesifik dan tidak dapat disamakan dengan pengalaman emosional negatif secara umum (Krupnik, 2020). American Psychiatric Association (2013) mendefinisikan trauma sebagai paparan terhadap peristiwa yang melibatkan ancaman kematian, cedera serius, atau kekerasan seksual, baik secara langsung maupun tidak langsung. Definisi ini menegaskan bahwa trauma berkaitan dengan ancaman ekstrem terhadap keselamatan individu, sehingga penggunaan istilah trauma untuk seluruh pengalaman emosional yang menyakitkan merupakan penyederhanaan yang keliru. Trauma juga ditandai oleh respons subjektif berupa perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, serta ketiadaan harapan untuk melawan, melarikan diri, atau menenangkan situasi yang dihadapi (Van der Kolk, 2014). Respons tersebut sering disertai reaksi fisiologis ekstrem seperti freeze, gemetar, berkeringat, dan ketakutan intens yang melumpuhkan. Sistem memori otak menyimpan pengalaman traumatis secara terfragmentasi dan tidak terstruktur, sehingga sulit diintegrasikan ke dalam cerita hidup yang tersusun rapi (Van der Kolk, 2014). Karakteristik ini membedakan trauma dari stres emosional atau kesedihan biasa yang masih dapat diproses secara adaptif.
Penggunaan istilah trauma dalam media sosial menunjukkan kecenderungan mengaburkan perbedaan mendasar tersebut. Pengalaman yang tidak melibatkan ancaman nyata maupun ketidakberdayaan ekstrem kerap dilabeli sebagai trauma (Jones, Levari, Bellet, dan McNally, 2020). Haslam dkk. (2021) menyebut fenomena ini sebagai concept creep, yaitu perluasan makna konsep bahaya dan kerugian ke dalam wilayah pengalaman yang semakin ringan. Perluasan ini menggeser trauma dari konsep klinis yang serius menjadi label emosional yang digunakan secara longgar.
Perluasan makna trauma melalui concept creep membawa konsekuensi epistemologis yang serius. Haslam dkk. (2021) menjelaskan bahwa kondisi ini dapat menyebabkan trivialization of severe harm, yaitu kecenderungan menyamakan penderitaan berat dengan pengalaman emosional ringan. Ketika trauma digunakan untuk menggambarkan kekecewaan sehari-hari, pengalaman individu dengan trauma klinis kehilangan kekhususannya, sehingga pemahaman publik terhadap penderitaan ekstrem menjadi semakin dangkal.
Fenomena tersebut tercermin dalam tingginya minat pencarian terhadap istilah trauma di ruang digital. Data Google Trends menunjukkan bahwa kata “trauma” secara konsisten berada pada kisaran skor tinggi dengan nilai stabil antara 70–90, di mana skor mendekati 100 merepresentasikan puncak popularitas relatif suatu kata kunci (Google Trends, 2025). Pola ini tidak menunjukkan peningkatan prevalensi trauma klinis, melainkan mengindikasikan normalisasi penggunaan istilah trauma dalam konteks non-klinis (Haslam dkk., 2021).
Dari perspektif psikologi sosial, penggunaan istilah trauma juga berfungsi sebagai alat validasi emosional dan legitimasi sosial. Britt dan Hammett (2024) menjelaskan bahwa wacana trauma dapat menjadi modal budaya yang memberikan status moral tertentu, terutama dalam media sosial yang mendorong empati dan perlindungan dari kritik. Upaya meluruskan penggunaan istilah trauma perlu dilakukan melalui edukasi singkat yang selaras dengan pola konsumsi informasi digital, seperti infografis atau video pendek yang menekankan unsur ancaman, ketidakberdayaan, dan dampak psikologis jangka panjang (Watt, Krishnamoorthy, Ong, & Rees, 2025). Penggunaan istilah yang lebih presisi seperti distress emosional untuk pengalaman tanpa ancaman ekstrem, menjadi langkah penting untuk menahan laju concept creep tanpa meniadakan validitas emosi individu (Haslam dkk., 2021).
PENUTUP
Dalam psikologi, penyalahgunaan istilah trauma dalam media sosial merupakan konsekuensi dari concept creep. Trauma yang secara klinis berkaitan dengan ancaman ekstrem, ketidakberdayaan, dan disorganisasi memori telah direduksi menjadi label emosional umum. Data digital dan kajian ilmiah menunjukkan bahwa popularitas istilah trauma tidak sejalan dengan ketepatan pemahamannya.
Oleh karena itu, menjaga presisi konseptual trauma bukanlah bentuk pembatasan ekspresi emosi, melainkan upaya melindungi makna trauma itu sendiri. Ketepatan istilah diperlukan agar trauma tetap dipahami sebagai kondisi psikologis serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan profesional. Tanpa upaya ini istilah psikologi berisiko kehilangan fungsi ilmiahnya dan berubah menjadi jargon populer yang miskin makna
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.
Britt, L., & Hammett, W. H. (2024). Trauma as cultural capital: A critical feminist theory of trauma discourse. Hypatia: A Journal of Feminist Philosophy, 39(4), 1–18. https://doi.org/10.1017/hyp.2024.22
Google Trends. (2025). Google Trends data: “trauma” search interest [Dataset]. Google. https://trends.google.com/trends/explore?cat=543&q=trauma&hl= ids
Haslam, N., Tse, J. S. Y., & De Deyne, S. (2021). Concept creep and psychiatrization. Frontiers in Sociology, 6, Article 806147. https://doi.org/10.3389/fsoc.2021.806147
Jones, P. J., Levari, D. E., Bellet, B. W., & McNally, R. J. (2023). Exposure to descriptions of traumatic events narrows one’s concept of trauma. Journal of experimental psychology. Applied, 29(1),179–187. https://doi.org/10.1037/xap0000389
Krupnik, V. (2020). Trauma or Drama: A Predictive Processing Perspective on the Continuum of Stress. Frontiers in Psychology, 11. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.01248
Lewis, S., Koenen, K., Ambler, A., Arseneault, L., Caspi, A., Fisher, H., Moffitt, T., & Danese, A. (2021). Unravelling the contribution of complex trauma to psychopathology and cognitive deficits: a cohort study. The British Journal of Psychiatry, 219, 448 – 455. https://doi.org/10.1192/bjp.2021.57
Pandell, L. (2022). How trauma became the word of the decade. Vox. https://www.vox.com/the-highlight/22876522/trauma-covid-word-origin- mental-health
Van der Kolk, B. A. (2014). The body keeps the score: Brain, mind, and body in the healing of trauma. Viking.
Watt, C., Krishnamoorthy, G., Ong, S., & Rees, B. (2025). Trauma-Informed Education in Open Online Courses: Lessons from Teacher Continuous Professional Development During COVID-19 . The International Review of Research in Open and Distributed Learning, 26(3), 1–21. https://doi.org/10.19173/irrodl.v26i3.8233
Woolard, A., Paciente, R., Munro, E., Wickens, N., Wells, G., Ta, D., Mandzufas, J., & Lombardi, K. (2024). #TraumaTok—TikTok videos relating to trauma: Content analysis. JMIR Formative Research, 8, e49761. https://doi.org/10.2196/49761













