
Ilustrasi “Sisa”
Sumber: Pinterest
𓂃˖˳·˖ ִֶָ ⋆૮₍ ˶ᵔ ᵕ ᵔ˶ ₎ა⋆ ִֶָ˖·˳˖𓂃 ִֶָ
Aku pernah meyakinkan diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja.
Bahwa kepergian adalah bentuk kemenangan, bahwa meninggalkanmu adalah caraku menyelamatkan diri. Tapi siapa yang sebenarnya kubohongi? Kamu, atau diriku yang terus gemetar setiap kali namamu muncul tanpa diundang?
Aku berkata aku ikhlas. Aku bilang kamu bebas, bahagia, dan aku tidak lagi membutuhkan apa pun darimu. Padahal di dalam kepalaku, aku masih berdiri di pintu yang sama, menunggu kamu menoleh sekali saja bukan untuk kembali, hanya untuk memastikan aku pernah berarti.
Aku membiarkanmu pergi, tapi aku mengurung diriku sendiri.
Setiap hari aku belajar hidup tanpamu, sambil diam-diam berharap kamu gagal melupakan aku seperti aku gagal melupakanmu. Jahat, ya. Tapi begitulah cinta bekerja ketika ia berubah menjadi luka yang terlalu akrab untuk ditinggalkan.
Aku tahu kata “kita” sudah mati. Aku menguburnya dengan sadar. Namun anehnya, aku masih berbicara pada nisan itu setiap malam, bertanya kenapa perpisahan tak pernah benar-benar mengakhiri apa pun.
Aku mencoba tidak mencintaimu. Aku sungguh mencoba.
Aku menghapus pesan, menghindari tempat, memalsukan senyum. Tapi setiap usaha menjauh justru membuatmu tumbuh lebih jelas di kepalaku seperti rasa sakit yang menolak sembuh karena sudah menjadi bagian dari tubuh.
Lalu hidup menekanku ke sudut yang tak punya jalan keluar.
Dan tanpa berpikir, aku kembali mencarimu. Panik. Rapuh. Seolah kamu adalah satu-satunya bahasa yang kupahami saat dunia mulai runtuh. Dan kamu menjawab. Kamu selalu menjawab. Di situlah aku tahu: aku belum selesai, aku hanya berpura-pura selesai.
Kami bicara. Dalam. Jujur. Terlambat.
Kesalahpahaman meluruh satu per satu, tapi bersamanya, pertahananku ikut runtuh. Aku tidak kembali mencintaimu aku tidak pernah berhenti. Aku hanya lupa seberapa berbahayanya mengakui itu.
Sekarang aku di sini, mencintaimu dengan cara yang lebih sunyi.
Tanpa tuntutan. Tanpa hak. Tanpa masa depan yang bisa kusebut milikku. Aku tahu ini tidak sehat. Aku tahu ini tidak adil. Tapi perasaan jarang peduli pada apa yang seharusnya.
Jika ini adalah kesalahanku yang paling jujur, biarlah.
Aku lelah melawan sesuatu yang tumbuh dari luka yang sama denganku. Dan jika mencintaimu adalah caraku perlahan hancur, maka setidaknya kali ini aku tahu persis kenapa.
⊹₊˚‧︵‿₊୨MNR୧₊‿︵‧˚₊⊹











