
Ilustrasi “Nyaris”
Sumber: Pinterest
°❀⋆.ೃ࿔*:・°❀⋆.ೃ࿔*:・°❀⋆.ೃ࿔*:・°❀⋆.ೃ࿔*:・
Kita bermula dari tak sengaja.
Dari langkah yang berpapasan tanpa niat,
dari sapaan yang tak lebih dari sekedar.
Tak ada tanda apa-apa,
tak ada getar yang langsung mengguncang dada.
Semua biasa saja.
Hingga waktu diam-diam bekerja.
Hari-hari berlalu,
dan entah bagaimana, namamu mulai menetap.
Bukan sebagai gema,
melainkan sebagai ruang.
Aku tak pernah tahu
kapan senyummu berubah menjadi tenangku,
kapan suaramu menjadi sesuatu
yang kucari dalam sunyi.
Rasa ini datang bukan sebagai badai.
Ia lebih seperti kabut pagi.
tipis, hampir tak terlihat,
namun perlahan mengubah jarak pandangku.
Aku mencoba menjelaskannya.
Pada diriku sendiri,
pada malam yang sering kupaksa mendengar.
Ini apa?
Kagum yang kelewat lama?
Nyaman yang tak mau pulang?
Atau cinta yang terlalu pelan tumbuhnya
hingga aku tak sadar ia telah berakar?
Semakin kupikirkan,
semakin ia tak mau diberi nama.
Semakin ingin kuucapkan,
semakin lidahku kelu.
Ada hal-hal yang terasa terlalu dalam
untuk dijadikan suara.
Terlalu rapuh
untuk diletakkan di udara.
Maka aku memilih diam.
Bukan karena tak ada rasa,
melainkan karena rasanya terlalu banyak.
Dan setiap kali kesempatan datang,
aku hanya mampu melihatmu dengan penuh harapan,
dengan kata-kata
yang tak pernah sempat lahir.
Kini yang tersisa hanyalah getar yang kupelihara sendiri.
Perasaan yang sulit dijelaskan,rasa suka
yang tak sempat kuucapkan.
Namun percayalah,
meski tak pernah kau dengar pengakuanku,
ia tumbuh
diam,
dalam,
dan semakin hari
makin terasa.
✎ᝰ.
𓇢MNR𓇢𓆸











