
Ilustrasi “Waspada Bisnis Berkedok Kerja Lepas: Modus MLM di Kalangan Mahasiswa”
Sumber: Pinterest
Psikogenesis, Sabtu (28/02) – Fenomena Bisnis Multi-Level Marketing (MLM) kian marak di kalangan mahasiswa. Di balik tawaran penghasilan cepat, sejumlah mahasiswa justru mengaku mengalami tekanan hingga dampak pada aktivitas kuliah dan relasi sosial.
Salah satu mahasiswa berinisial A, menceritakan bagaimana awal mula dirinya direkrut. Dirinya mengaku mendapat tawaran sebagai pekerja lepas dari seorang teman dengan janji akan mendapat penghasilan harian yang menggiurkan.
“Awalnya itu ditawari dengan teman saya dengan kata Freelance (baca: Kerja Lepas) dengan hasil yang memuaskan dan digaji setiap hari. Di situ saya penasaran, jadi saya akhirnya ikut dengan teman saya ke tempat yang telah direncanakan,” jelasnya.
Namun, sesampainya di lokasi pertemuan, A terkejut ketika mengetahui adanya kewajiban pembelian paket sebagai syarat bergabung yang tidak diinformasikan sebelumnya.
“Sejak awal dikenalkan oleh teman saya, tidak ada informasi apapun itu soal pembelian paket karena dia hanya mengatakan join (baca: bergabung) freelance dan digaji setiap hari dan saya mengetahui bahwa adanya pembelian paket itu ketika saya sudah sampai di lokasi,” tambahnya.
Dalam pertemuan tersebut, pihak perekrut menjanjikan penghasilan setiap hari serta meyakinkan A bahwa dirinya tidak perlu lagi membebani orang tua karena bisa memperoleh pendapatan sendiri dengan sistem kerja fleksibel.
“Mereka menjanjikan saya akan mendapatkan uang dari bisnis tersebut (baca: Bisnis MLM) dan mereka mengatakan agar saya tidak membebani orang tua saya lagi karena saya juga sudah mempunyai penghasilan sendiri (baca: jika bergabung dalam bisnis tersebut) dan bisa dilakukan dari rumah saja atau di mana pun itu,” ungkapnya.
Tekanan mulai dirasakan ketikan A menyatakan tidak memiliki dana untuk membeli paket. Dirinya mengaku terus didesak dengan berbagai cara sebagai alternatif agar tetap bisa bergabung.
“Mereka berkata kepada saya kalau tidak memegang uang sama sekali, mereka punya cara lain untuk mendapatkan uang membeli paket tersebut. Mereka meminta saya menggadaikan kendaraan, lalu menawarkan pinjaman online, bahkan sampai ingin menelepon orang tua saya agar memberi saya uang. Saya sangat merasa tertekan, karena sudah menolak berkali-kali, tapi mereka selalu mencari cara agar saya dapat join bisnis mereka,” jelasnya.
Pengalaman serupa juga dialami oleh mhasiswa lain berinisial AC. Awalnya, dirinya mengaku diajak menghadiri seminar yang dikemas sebagai “Kelas Kecantikan” di salah satu hotel oleh teman kampusnya.
“Awalnya saya diajak oleh salah satu teman kampus saya untuk menghadiri Seminar Kelas Kecantikan di sebuah hotel. Setibanya di sana, saya dipandu dan diperlihatkan contoh bonus atau pencapaian para member affiliate (baca: afiliasi) Bisnis MLM tersebut. Waktu itu saya masih belum paham maksud dan tujuannya,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, dirinya diberikan berbagai informasi mengenai keuntungan yang akan diterima serta dijanjikan pendampingan tim dan penghasilan pribadi yang besar dengan sistem kerja yang fleksibel.
“Mereka membujuk dengan akan membantu tim (baca: perekrut dan orang yang akan bergabung) dan membantu saya mendapatkan penghasilan pribadi. Cara kerjanya disebut sangat fleksibel dan tidak mengganggu waktu,” tambahnya.
Lebih lanjut, meski dirinya sempat ragu dan merasa penawaran tersebut tidak masuk akal, AC akhirnya memutuskan bergabung pada malam itu juga.
“Awalnya saya merasa ragu, bahkan saya merasa hal itu tidak masuk akal, tetapi entah apa yang membuat saya terpengaruh sehingga saya bergabung malam itu juga dengan solusi yang mereka tawarkan,” sambungnya.
Sebelum resmi bergabung, peserta kemudian akan ditanya mengenai ketersediaan dana. Ketika sebagian besar mengaku tidak memiliki uang, pihak perekrut menawarkan solusi berupa menggadaikan barang atau menggunakan Pinjaman Online (Pinjol) dengan janji dana yang kembali akan lebih besar.
“Kami (baca: AC bersama peserta lainnya) ditanya mengenai uangnya apakah ada atau tidak dan hampir semua menjawab tidak memiliki uang. Setelah itu mereka memberikan solusi berupa menggadai barang berharga atau Pinjol sambil terus meyakinkan kami kalau nantinya itu semua akan kembali bahkan dengan jumlah yang lebih besar,” jelasnya.
AC mengaku akhirnya menggadaikan barang dan membeli tiga paket produk serta diminta menyerahkan sejumlah dokumen pribadi sebagai syarat pendaftaran.
“Dari hasil gadai itu, saya berhasil bergabung dengan membeli tiga paket produk. Lalu, mereka meminta dokumen pribadi berupa KTP (baca: Kartu Identitas Penduduk) dan saya diminta mengisi formulir pendaftaran yang ditandatangani di atas materai lalu kami direkam sebagai bukti bahwa kami telah bergabung di bisnis tersebut,” sebutnya.
AC melanjutkan bahwa sistem kerja sehari-hari adalah mencari orang yang berminat untuk diajak menghadiri pertemuan di kafe yang akan menjelaskan sistem kerja bisnis.
“Sistem kerjanya sehari-hari kami disuruh mencari orang yang berminat untuk join lalu diajak menghadiri pertemuan di kafe yang nantinya dijelaskan mengenai sistem kerjanya,” lanjutnya.
Meski tidak ada target tertulis. Namun, para atasan terus mengarahkan anggota untuk menghadiri pertemuan setiap hari, terlepas dari ada atau tidaknya calon anggota yang dibawa.
“Tidak ada target yang ditetapkan, tapi para leader (baca: atasan) terus mengarahkan kami untuk menghadiri pertemuan setiap hari di sebuah kafe, ada atau tidak adanya undangan (baca: orang yang akan direkrut),” jelasnya.
Keterlibatan tersebut akhirnya berdampak pada kondisi fisik dan akademiknya. AC mengaku wakti istirahatnya jadi berkurang karena harus mengikuti pertemuan dari siang hingga malam, sementara pagi hari dirinya tetap berkuliah.
“Waktu istirahat saya berkurang. Saya selalu merasa mudah lelah karena setiap hari harus mengikuti pertemuan sejak siang sampai malam, pagi harinya saya harus ke kampus dan malam hari mengerjakan tugas. Hal itu sangat menguras tenaga bagi saya,” tuturnya.
Selain itu, relasi pertemanannya juga ikut terdampak. AC merasa bersalah karena sempat mengajak temannya hingga akhirnya terjerat pinjaman online, yang membuat hubungan pertemanan mereka menjadi renggang.
“Hubungan pertemanan saya menjadi renggang dan canggung. saya dihantui rasa bersalah karena mengajak teman saya dan itu membuat teman saya merasa kesusahan karena harus terjerat Pinjol,” tambahnya.
Terakhir, AC berpesan agar mahasiswa lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan dan tidak mudah tergiur keuntungan yang ditawarkan.
“Pesan saya, kita harus lebih berhati-hati sebelum mengambil tindakan, pikirkan matang-matang risiko ke depannya, jangan gampang termakan dengan benefit (baca: keuntungan) yang akan diterima. Jika kamu diajak ikut event (baca: kegiatan) kecantikan atau seminar yang kurang jelas informasinya, lebih baik tolak sebelum kamu terjerumus,” pesannya.
Secara regulasi, bisnis MLM diperbolehkan di Indonesia sepanjang memiliki produk nyata dan tidak menerapkan skema piramida. Hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan serta Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 70 Tahun 2019 yang berada di bawah pengawasan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Dalam aturan tersebut ditegaskan bahwa perusahaan dilarang memberikan imbalan yang bersumber terutama dari biaya perekrutan anggota baru. Jika keuntungan lebih bertumpu pada perekrutan dibanding penjualan produk, praktik tersebut dapat dikategorikan sebagai skema piramida atau money game yang dilarang dan berpotensi masuk ranah penipuan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
(014)









