
Nisa Pratiwi selaku GSA 2026
Sumber: Dok. Pribadi
Psikogenesis, Selasa (28/04) – Salah satu Mahasiswi Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) raih gelar Google Student Ambassador (GSA) 2026 yang akan disahkan melalui acara inaugurasi oleh Google di Google Office Jakarta pada Rabu hingga Sabtu (22-25/04).
Annisa Pertiwi selaku peraih gelar GSA 2026 menjelaskan bahwa gelar GSA 2026 berlaku selama tiga bulan mulai April hingga Juli mendatang. Nisa menyebutkan bahwa GSA 2026 merupakan wadah bagi mahasiswa yang tertarik menjadi penghubung mahasiswa dengan teknologi. Peserta GSA 2026 dituntut untuk mengedukasi mahasiswa terkait penggunaan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang baik sembari memperkenalkan fitur-fitur dan ekosistem Google.
“Menjabat sebagai GSA ini dari April sampai Juli. Tiap minggunya ada challenge upload konten di sosial media. Kami menjadi wadah sebagai penghubung antara mahasiswa dengan teknologi, kami menjelaskan fitur-fitur yang ada di Google, ekosistem-ekosistem yang ada di Google, kami menjelaskan juga bagaimana cara menggunakan AI yang baik, dan juga teknologi AI yang baik, karena sekarang kan sudah banyak AI,” jelasnya.
Kemudian, Nisa juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa rangkaian untuk meraih gelar tersebut. Pendaftaran dilaksanakan dengan beberapa tahap yaitu mengisi kelengkapan administrasi, melaksanakan tantangan berupa mengunggah twibbon, wawancara dengan teknik self-record, serta memperkenalkan fitur-fitur Google. Kemudian, peserta diseleksi dan dinyatakan lolos melalui pengumuman daring pada Kamis (01/04).
“Pendaftaran itu kami mengisi administrasi, data diri dan akun-akun sosial media. Lalu disuruh melakukan challenge berupa mengupload twibbon dan juga self-record interview. Kami dikasih empat pertanyaan dari pihak Google. Kami jawab, rekam, posting. Tidak boleh diedit. Lalu kami disuruh bikin challenge untuk memperkenalkan fitur-fitur di Google seperti Gemini dan lain-lainnya,” jelasnya.
Lanjut, Nisa menyampaikan bahwa terdapat 1900 kampus di Indonesia yang berpartisipasi pada kegiatan ini dan terdapat total 2000 orang yang berhasil diseleksi untuk mendapatkan gelar GSA 2026. Kemudian, peserta yang lolos akan dikukuhkan dalam acara inaugurasi secara daring dan luring bagi 150 orang terpilih di Google Office Jakarta.
“Lebih 1900 kampus di Indonesia yang diterima cuma 2.000 orang. Inaugurasinya itu semua ikut tapi yang diundang langsung ke Google Office-nya di Jakarta, itu cuma 150 orang. Lainnya ikut secara online. Alhamdulillahnya saya salah satu dari 150 orang tadi,” ungkapnya.
Selain itu, Nisa menambahkan bahwa terdapat beberapa manfaat yang ditawarkan kegiatan tersebut seperti kelas coding gratis, relasi, hingga paket selamat datang yang berisi baju, botol minuman, dan lain-lain.
“Kami mendapatkan welcome kit dari Google berupa tumbler, baju, dan lain-lain. Kami juga dikasih kelas gratis coding dari Google, terus dapat relasi baru, dapat terhubung langsung dengan admin-admin Google,” tambahnya.
Dalam prosesnya, Nisa mengaku keinginan untuk dilirik oleh pihak kampus serta ambisi mencari pengalaman lomba di tingkat nasional menjadi motivasi terbesar untuk berjuang meraih gelar ini.
“Punya keinginan yang saya harus di notice sama pihak kampus karena saya ada prestasinya. Terus juga karena ada ambisi yang kuat untuk saya harus ke Jakarta karena lomba gitu,” tuturnya.
Kemudian, Nisa menyarankan agar mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti kegiatan serupa agar lebih sering untuk mengecek dan mengumpulkan informasi seputar Google dan fitur-fiturnya. Selain itu, Nisa juga menyampaikan agar Mahasiswa dapat lebih serius dan tekun untuk mengikuti proses seleksi dengan tidak berhenti di tengah jalan.
“Harus rajin cek informasi, harus banyak research tentang seputar Google, terutama fitur-fitur yang ada di Google, seperti Gemini dan kawan-kawan. Lalu selesaikan dengan tepat waktu apa yang menjadi persyaratannya karena banyak juga teman-teman yang cuma mendaftar dan berhenti di tahap dua. Jadi disini butuh ketekunan dan keseriusan,” sarannya.
Terakhir, Nisa berharap dengan perannya, mahasiswa tidak lagi bergantung pada AI dan dapat menggunakan teknologi dan AI dengan baik serta terbuka. Nisa juga berharap agar Mahasiswa dapat terus mengikuti perkembangan teknologi.
“Kita harus menggunakan teknologi dan AI dengan baik. Saya mau teman-teman juga menjadi lebih terbuka pikirannya terkait AI. Saya enggak mau teman-teman itu merasa kurang update lagi tentang teknologi, saya enggak mau juga teman-teman itu merasa kayak bisa dibilang apa-apa AI,” tutupnya.
(RBN)












