LPM Psikogenesis

LPM Psikogenesis
LPM Psikogenesis

Mahasiswa FPsi Keluhkan Pelayanan TU, Jam Oprasional Hingga Sikap Staf Jadi Sorotan

follow:

Foto Ruang Tata Usaha FPsi UNM

Sumber: Dok. LPM Psikogenesis

Psikogenesis, Kamis (12/03) – Sejumlah mahasiswa Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) menyoroti pelayanan Tata Usaha (TU) FPsi UNM akibat akses layanan, waktu oprasional, hingga pelayanan yang dinilai masih kurang.

Keluhan tersebut salah satunya datang dari AR, salah satu Mahasiswa FPsi UNM yang menilai bahwa secara umum layanan TU sudah cukup lengkap. Namun, dirinya mengungkapkan bahwa pelayanan pada pagi hari sering tertunda hingga siang hari, dikarenakan Staf TU yang belum datang.

“Kita bisa mengatakan layanan di TU itu sudah lengkap, tetapi yang menjadi kekurangan adalah ketika ada kebutuhan akademik di pagi hari. Biasanya, Staf TU belum datang, terkadang jam sepuluh lewat baru dilayani. Harusnya masuk jam satu siang, tapi mereka molor sampai jam dua siang. Intinya tidak tepat waktu setelah istirahat,” ungkapnya.

Keluhan serupa turut disampaikan oleh C, Mahasiswa yang bertanggung jawab atas pengelolaan absen di kelasnya. Dirinya merasa kesulitan mengurus administrasi karena staf yang bertugas kerap tidak berada di tempat.

“Staf yang saya mau datangi (baca: Staf TU) untuk meminta absen itu bisa dibilang menghalangi saya sampai hampir pertengahan hingga akhir semester satu, karena pada saat sampai di TU, stafnya ini selalu tidak ada di tempat,” ujarnya.

C juga menambahkan bahwa Staf TU lainnya terkesan lepas tangan saat ditanyakan mengenai keberadaan Staf TU yang bertugas pada saat itu.

“Menurut saya sendiri, lebih ke lepas tangan (baca: Staf TU), karena setiap saya ke sana, pasti kakaknya itu jawabannya berulang-ulang dia bilang yang bertugas tidak ada di sini. Jadi, kalaupun saya mau kembali ke TU itu agak have no clue,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, F menyebut bahwa Staf TU kerap dianggap beristirahat dan pulang lebih cepat daripada waktu yang telah ditetapkan. Bahkan ketika pelayanan kembali dibuka, proses pelayanan dinilai masih berjalan lambat.

“Bukan cuma saya sendiri, tapi validasi langsung dari teman-teman saya yang lain, bahwasannya TU FPsi UNM itu sering dicap beristirahat dan pulang lebih cepat dari waktu yang semestinya, pun ketika sudah kembali memasuki jam operasional, Staf TU tetap agak lambat dalam melayani,” terangnya.

Selain persoalan waktu oprasional, AR juga menyoroti akses pelayanan di ruang TU. Dirinya berpendapat, mahasiswa seringkali harus memanggil staf dengan suara keras agar diperhatikan.

“Stafff TU-nya ada, tapi betul-betul harus dipanggil nyaring baru mereka melirik kita. Nah, itu yang menjadi ketidaknyamanan juga kalau mau teriak di TU,” tuturnya.

Masalah lain muncul dalam pengurusan administrasi akademik dan persuratan. D mengungkapkan bahwa proses penerbitan surat terkadang memakan waktu lama hingga harus melakukan pengajuan ulang.

“Saya juga pernah alami kesalahan di suratku, jadi harus melapor lagi dulu sama TU-nya dan butuh lagi proses untuk tunggu. Pas semester kemarin itu lama sekali keluar suratnya, sampai harus di follow-up lagi, bahkan saya sempat isi Google Form dua kali untuk surat yang sama,” ungkapnya.

D juga mengaku kebingungan dengan mekanisme persuratan, dikarenakan tautan untuk persuratan sering berubah-ubah.

“Kadang tidak jelas kita dapat ini suratnya dari mana, karena link yang biasanya ditempati buat cek surat, tiba- tiba berubah dan kadang juga dikirimkan langsung lewat email, jadi itu yang buat bingung juga,” ujarnya.

Meski demikian, F menilai sistem digital melakui Google Drive dan Google Form sudah lebih sederhana dibandingkan sebelumnya. Namun, dirinya menilai Kode QR dan papan pengumuman di depan TU masih perlu disederhanakan agar lebih mudah dipahami.

“Google Drive-nya sudah diperbarui, Google Form-nya juga sudah lebih sederhana, dan ketika ingin mengakses pun lebih nyaman saat membedakan fasilitas sesuai keperluan masing-masing. Nah, untuk kode QR atau papan pengumuman di depan TU itu saya rasa yang masih belum maksimal penyederhanaannya,” pungkasnya.

Selain sistem pelayanan, sikap Staf TU juga menjadi perhatian mahasiswa. D mengaku pernah merasakan pelayanan dengan ekspresi kurang bersahabat.

“Jujur kadang ki jutek Staf TU-nya. Entah saya yang perasa atau bagaimana, tapi Staf TU yang cewe itu kebanyak jutek, baru ki berdiri, langsung mi sinis,” ujarnya.

Beberapa gestur yang ditunjukan Staf TU terkadang dinilai kurang ramah saat melayani, sehingga membuat mahasiswa merasa ragu ketika hendak meminta bantuan administrasi.

“Mendengar dari teman-teman mahasiswa akhir, Staf TU terkadang mood-mood an. Jatuhnya tingkat profesionalnya kurang maksimal, sehingga membuat yang ingin meminta bantuan ragu apakah Staf TU dalam kondisi prima atau tidak,” ungkapnya.

Kendati demikian, F menilai bahwa perlinya kesadaran bersama. Dirinya mengaku kerap mendengar pandangan staf Tu yang menilai sebagian mahasiswa juga kerap menyulitkan proses pelayanan.

“Ini juga tentunya memerlukan juga tingkat kesadaran dari teman-teman mahasiswa yang lain, karena pernah juga kudengar POV (baca: sudut pandang) dari Staf TU sendiri kalau teman-teman mahasiswa yang kadang agak susah diatur atau agak repot ki,” tambahnya.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Subkoordinator TU FPsi UNM, Nurhasny menjelaskan bahwa keterlambatan waktu pelayanan sering terjadi karena staf yang masih menerima mahasiswa di saat jam istirahat.

“Biasanya kami (baca: Staf TU) itu keluar (baca: lebih dini) dari jam istirahat sebenarnya, karena kita di jam istirahat masih melayani. Nah, ini yang Staf TU yang bertugas biasanya belum makan, belum apa semua, jadi biasa itu dia lagi makan, mahasiswanya datang, karena itu kita molor. Apalagi pas jam istirahat, mengharuskankita maju, karena banyak biasa mahasiswa antri,” jelasnya.

Dirinya juga menegaskan bahwa proses pelayanan di TU berjalan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan sangat bergantung pada disposisi pimpinan fakultas.

“Kan dari pimpinan dulu. Kami tidak bisa memproses apa-apa kalau belum ada eksposisi dari pimpinan. Mau sepuluh hari, mau tiga hari, mau berapa hari, itu tergantung dari eksposisi pimpinan. Karena itu kita memang harus menunggu. Nah, mahasiswa selalu tidak mau tahu, maunya selalu hari ini masuk (baca: suratnya), hari ini juga keluar balasannya. Tdak bisa. ada SOP-nya,” tegasnya.

Nurhasny juga menambahkan bahwa keterlambatan penerbitan surat sering kali disebabkan oleh kelengkapan berkas mahasiswa yang belum terpenuhi atau menunggu persetujuan pimpinan.

“Salah satu persyaratan itu tidak ada, otomatis suratmu tidak akan keluar, karena itu kan masuk ke eksposisi. Pimpinan dulu membaca suratnya, kalau tidak dieksposisi kita tidak akan membalas surat itu,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nurhasny juga menghimbau agar mahasiswa lebih aktif memantau informasi resmi yang telah disediakn melalu situs web dan sosial media.

“Berarti mahasiswa tidak membaca dan tidak melihat apa Informasi yang diberikan di sosial media, dia kurang informasi, kurang mau tahu. Saya selalu mengoordinir di bagian IT bahwa setiap ada informasi-informasi yang terkait kemahasiswaan, itu ada semua di website, jadi harus selalu membaca, membuka, dan selalu bertanya ke teman-temannya,” paparnya.

Nurhasny juga menuturkan bahwa pelayanan Staf TU juga dipengaruhi oleh sikap mahasiswa saat berinteraksi.

“Kalau mahasiswa juga bagus-bagus datang ke kita, kita welcome juga, tapi kalau dia lebih duluan emosi, kok kita mau diinjak-injak,” tuturnya.

Terakhir, F berharap penyederhanaan layanan dari TU, jam operasional dapat dimaksimalkan lagi, serta kepekaan terhadap mahasiswa yang datang perlu di tingkatkan.

“Akan dimaksimalkan dari segi penyederhanaan layanan dari TU, mulai dari QR, papan pengumuman, dan hal lainnya yang mirip. Kedua, jam operasional di maksimalkan. Kepekaan untuk teman-teman yang ingin meminta bantuan, beberapa mahasiswa tidak enak atau tidak tau cara memanggil Staf TU,” tutupnya.

(010).

psikogenesis.org

psikogenesis.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts