
Ilustrasi Kegiatan Teman Cerita
Sumber: Dok. Pribadi
Psikogenesis, Rabu (25/02) – Kementerian Pengabdian Masyarakat (Kemenpema) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema) Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2025–2026 kembali menghadirkan Program Kerja (Proker) Teman Cerita yang bertempat di BB 101 pada Senin (16/02).
Berbeda dari Proker Teman Cerita BEM Kema FPsi UNM periode 2023-2024 yang berfokus pada konseling individu, tahun ini Teman Cerita mengusung format konseling kelompok dengan suasana yang santai dimana seluruh partisipan merasa setara satu sama lain.
Program ini melibatkan sepuluh konselor sebaya, yang terbuka bagi mahasiswa maupun masyarakat umum yang ingin melakukan konseling.
Divia Febrianti Syam selaku Penanggung Jawab Proker, menjelaskan bahwa Teman Cerita dibentuk untuk memberikan dukungan emosional awal dengan nuansa santai dan tidak menghakimi sebelum masalah konseli berkembang lebih jauh.
“Sebenarnya tujuan awalnya untuk memberikan dukungan emosional awal atau peer support, dengan nuansa santai dan tidak menghakimi sebelum masalah konseli berkembang lebih jauh,” jelasnya.
Mahasiswi yang akrab disapa Dipo tersebut menegaskan bahwa Teman Cerita bukan sesi konseling formal atau profesional karena seluruh konselor merupakan mahasiswa.
“Teman Cerita perlu ditekankan di awal bahwa ini bukan sesi konseling formal atau profesional, karena konselornya berasal dari mahasiswa. Sehingga ini merupakan konseling sebaya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mahasiswi Angkatan 2022 tersebut menambahkan bahwa Proker ini terbuka untuk umum. Namun, mayoritas pendaftar ternyata didominasi mahasiswa.
“Teman Cerita sebenarnya lebih ke masyarakat umum, tapi yang mendaftar ternyata mayoritas mahasiswa,” tambahnya.
Selain itu, Dipo juga menerangkan bahwa Teman Cerita ini merupakan bentuk dukungan sebaya yang memberikan ruang aman bagi konseli untuk berbagi tanpa rasa takut dihakimi. Sebelum sesi dimulai, panitia melakukan pendekatan yang baik guna membangun kepercayaan.
“Teman Cerita adalah bentuk peer support. Mereka bebas menceritakan apapun tanpa takut dihakimi karena Proker ini hadir untuk mereka yang ingin didengarkan,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Dipo berharap mahasiswa maupun masyarakat umum di luar sana yang masih ragu untuk menkonsultasikan masalah yang dialaminya agar dapat lebih terbuka melalui hadirnya kegiatan ini sekaligus mampu menyadarkan khalayak luas bahwa masih ada ruang yang aman untuk meluapkan permasalahan ataupun isi hati.
“Harapannya, dengan hadirnya Proker ini, bisa menyadarkan masyarakat bahwa masih banyak tempat untuk bercerita banyak hal dan tidak ragu untuk bercerita. Untuk kamu yang mungkin sedang berjuang dalam diam, We see you, and we’re here for you,” tutupnya.
(006)












