
Foto Bersama PKM SMK Negeri 3 Gowa
Sumber: Dok. Pribadi
Psikogenesis, Kamis (07/05) – Tim dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) gelar Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berupa psikoedukasi di SMK Negeri 3 Gowa pada Rabu (06/05). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi berprestasi, kesiapan karier, serta mencegah kenakalan remaja dan perilaku bullying pada siswa. Pengabdian ini diinisiasi oleh tim dosen yang terdiri atas Novita Maulidya Jalal, St. Hadjar Nurul Istiqamah, Rahmawati Syam, Nur Akmal, dan Ismalandari Ismail.
Kegiatan dilaksanakan di dua kelas dengan materi yang disesuaikan dengan perkembangan remaja dan kebutuhan siswa sekolah vokasional. Program ini secara umum diarahkan untuk meningkatkan kemampuan analisis, kesadaran mental, serta kesiapan siswa dalam menghadapi dunia kerja.
Salah satu pengabdi, Novita Maulidya Jalal menjelaskan bahwa program ini hadir sebagai upaya menjawab berbagai persoalan psikologis dan sosial remaja. Menurutnya, melalui program ini tim berusaha meningkatkan kesiapan mental siswa agar lebih berkembang siap untuk bersaing nantinya.
“Tim berupaya mengatasi permasalahan psikologis dan sosial yang kerap dihadapi remaja usia sekolah menengah. Program ini membimbing siswa agar tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga ketahanan mental untuk berkembang dan bersaing,” jelasnya.
Pentingnya Growth Mindset dan Kesiapan Karier
Di kelas pertama, materi difokuskan pada penguatan mental melalui konsep growth mindset. Novita Maulidya Jalal membawakan materi terkait pentingnya pola pikir berkembang dalam meningkatkan motivasi berprestasi. Siswa diedukasi untuk memahami bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat terus dikembangkan melalui usaha, ketekunan, dan pembelajaran dari kegagalan.
Materi kemudian dilanjutkan oleh St. Hadjar Nurul Istiqamah dan Rahmawati Syam yang membahas adaptasi dan kesiapan karier. Keduanya menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi, etika profesional, serta pengenalan potensi diri sebagai bekal memasuki dunia kerja. Hal ini dinilai penting untuk meminimalisasi culture shock saat siswa beralih dari lingkungan sekolah ke dunia profesional.
Mencegah Bullying Melalui Empathic Love dan Regulasi Diri
Sementara itu, di kelas kedua, fokus materi diarahkan pada dinamika sosial remaja, khususnya terkait kenakalan remaja dan perilaku bullying. Nur Akmal bersama Ismalandari Ismail mengangkat pendekatan empathic love dan self-regulation sebagai strategi pencegahan. Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak untuk memahami perasaan orang lain, menumbuhkan empati, serta mengelola emosi agar tidak bertindak impulsif.

Foto Bersama Tim Pelaksana
Sumber: Dok. Pribadi
Kesan Peserta dan Pihak Sekolah
Selama kegiatan berlangsung, suasana kelas terpantau interaktif dan partisipatif. Siswa aktif terlibat dalam diskusi, tanya jawab, serta analisis studi kasus yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Muhammad Jafar selaku Kepala SMK Negeri 3 Gowa mengapresiasi kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi nyata antara akademisi dan sekolah. Menurutnya, langkah ini sebagai bentuk penguatan dan pengembangan karakter siswa sebelum menjadi bagian dari masyarakat.
“Sinergi antara akademisi dan praktisi psikologi dengan pihak sekolah merupakan langkah nyata dalam mendukung perkembangan psikis siswa dan memperkuat pondasi karakter mereka sebelum terjun ke masyarakat,” ucapnya.
Apresiasi serupa disampaikan oleh salah satu guru Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 3 Gowa, Muh. Adri Latif. Ia menilai program ini memberikan dampak signifikan terhadap motivasi dan kesiapan mental siswa.
“Program psikoedukasi ini menjadi penguatan yang sangat berarti bagi siswa untuk semakin termotivasi dalam belajar dan mempersiapkan mentalnya,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh A. Muhammad Ainun yang juga merupakan salah satu guru Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 3 Gowa. Dirinya menilai pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan sebuah inovasi serta relevan dengan kebutuhan siswa serta memiliki nilai.
“Kehadiran akademisi dan praktisi psikologi memberikan warna baru dalam bimbingan konseling. Pendekatan empathic love dinilai inovatif dan aplikatif di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Seluruh tim pengabdi berharap agar kegiatan ini dapat terus berlanjut sebagai upaya pendampingan psikologis yang berkelanjutan bagi generasi muda, khususnya di Sulawesi Selatan.












