LPM Psikogenesis

LPM Psikogenesis
LPM Psikogenesis

Menjaga Diri dari Stres: Manajemen Kesehatan Mental Akademik Lewat Kasus Mahasiswi Undana

Mutiara Nur Jasynda

Sumber: Dok. Pribadi

Mutiara Nur Jasynda, Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga

Awal Agustus 2026, platform media sosial ramai membicarakan sebuah video berdurasi 31 detik. Dalam rekaman tersebut, seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, berinisial JST, tampak menangis histeris hingga tergeletak di lantai, sementara beberapa orang di sekitarnya berusaha menenangkannya. Dijelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh pembatalan ujian skripsi yang berulang dan memuncak ketika permintaan pergantian penguji disampaikan mendadak menjelang hari pelaksanaan. Secara akademik, mahasiswi tersebut telah menyelesaikan seluruh mata kuliah dan tinggal selangkah menuju gelar sarjana. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit karena mengalami depresi dan serangan panik. Analisis ini berdasarkan rekaman publik dan pernyataan resmi. Penulis tidak melakukan investigasi internal atas kasus ini.

Kasus ini menarik bukan semata karena kabar viralnya, melainkan karena memperlihatkan wajah lain dari dunia akademik yang jarang dibicarakan terbuka, yaitu stres akademik. Bagi banyak orang, skripsi kerap dianggap sekadar “tugas akhir” yang harus dituntaskan dengan kerja keras. Namun bagi mahasiswa yang mengalaminya secara langsung, skripsi bisa menjadi titik puncak akumulasi dari tekanan bertahun-tahun, diperberat oleh ketidakpastian birokrasi kampus yang berulang. Fenomena ini pun bukan kasus terisolasi. Penelitian lintas negara terhadap mahasiswa perguruan tinggi menemukan bahwa gangguan kesehatan mental jauh lebih umum dialami kalangan mahasiswa daripada yang biasanya disadari publik (Auerbach et al., 2018), dan gambaran serupa terlihat di dalam negeri: penelitian terhadap mahasiswa di salah satu universitas di Indonesia menemukan bahwa hampir seluruh mahasiswa yang disurvei mengalami stres akademik pada tingkat sedang hingga tinggi (Zamroni, 2015).

Stres akademik jarang muncul hanya dalam satu bentuk. Stres bisa tampak sebagai gejala fisik seperti sakit kepala, gangguan tidur, dan jantung berdebar; sebagai gejala emosional seperti kecemasan berlebihan, mudah menangis, dan perasaan putus asa; sebagai gangguan kognitif berupa pikiran negatif yang berulang dan sulit dikendalikan; hingga sebagai perilaku menghindar, misalnya menarik diri dari lingkungan sosial atau menghindari kampus. Keempat aspek ini jarang berdiri sendiri-sendiri; satu sama lain saling memperkuat, hingga akhirnya menumpuk menjadi krisis yang sulit ditahan.

Namun, di balik kasus yang tampak seperti persoalan administratif ini, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa satu peristiwa sesederhana pergantian dosen penguji bisa memicu krisis psikologis sebesar itu? Menurut Lazarus dan Folkman (1984), stres adalah hasil dari penilaian kognitif seseorang terhadap situasinya: apakah situasi itu dipersepsikan sebagai ancaman, dan apakah dirinya merasa memiliki cukup sumber daya untuk menghadapinya. Ketika seseorang merasa terancam sekaligus tidak memiliki dukungan atau kendali atas keadaan, tekanan itu bisa terasa begitu berat hingga memicu serangan panik dan depresi.

Jika teori Lazarus dan Folkman menjelaskan bagaimana pikiran menilai sebuah ancaman, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana penilaian itu berubah menjadi gejala nyata di tubuh. Dari perspektif psikologi kesehatan, pengalaman mahasiswi tersebut menunjukkan bahwa stres psikologis yang berkepanjangan tidak berhenti pada ranah perasaan semata. Paparan stres yang terus-menerus dapat mengaktifkan sistem hormon stres tubuh secara berlebihan, meningkatkan kadar kortisol, dan pada akhirnya bermanifestasi menjadi gejala fisik nyata, mulai dari gangguan tidur hingga serangan panik. Penjelasan fisiologis ini sejalan dengan teori Hans Selye (1956) tentang General Adaptation Syndrome, yang menggambarkan respons tubuh terhadap stres melalui tiga tahap: alarm (reaksi awal dan aktivasi hormon), resistensi (upaya tubuh beradaptasi dan menahan respons), dan kelelahan (ketika mekanisme adaptasi tersebut runtuh dan muncul gangguan kesehatan). Dengan kata lain, tekanan psikologis yang berkepanjangan dapat menimbulkan keausan pada tubuh, sehingga kesehatan mental dan kesehatan fisik sepatutnya dipandang sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi, bukan dua hal yang terpisah.

Pola yang muncul dalam kasus ini juga patut direnungkan: dukungan institusi baru terlihat nyata setelah video tersebut viral dan menuai perhatian publik. Ini bukan berarti menuduh pihak kampus abai, sebab proses pemeriksaan kasus ini sendiri masih berjalan. Namun, siapa pun yang pernah berada di posisi mahasiswa tingkat akhir tentu bertanya-tanya: seandainya video itu tidak pernah viral, akankah dukungan yang sama datang secepat itu? Pertanyaan semacam ini penting diajukan bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mendorong sistem deteksi dini yang hadir sebelum krisis terjadi, bukan sesudahnya.

Jika tanda-tanda stres terlihat pada orang di sekitar kita, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu. Jika kita memperhatikan teman, kerabat, atau orang di sekitar yang menunjukkan tanda-tanda stres, misalnya sulit tidur, sering cemas, menarik diri, atau mudah menangis, jangan ragu untuk mendekat dan bertanya dengan lembut: “Kamu sedang bagaimana akhir-akhir ini?” atau “Apa yang sedang membebanimu sekarang?” Tawarkan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi, dan bila perlu, bantu mereka mencari dukungan profesional atau menemani ke layanan konseling kampus. Di tingkat institusi, kampus perlu membangun sistem pencegahan yang lebih matang, yaitu layanan konseling yang mudah diakses, mekanisme pengaduan akademik yang transparan dengan waktu respons yang jelas, serta survei kesehatan mental berkala bagi mahasiswa.

Kasus mahasiswi tersebut barangkali akan mereda seiring berjalannya waktu, tetapi pelajarannya sepatutnya tidak ikut menghilang. Kesehatan mental akademik bukan urusan pribadi mahasiswa yang harus dipendam sendirian sampai titik jenuh, melainkan tanggung jawab bersama antara individu dan institusi pendidikan. Mahasiswa perlu belajar mengenali sinyal stres pada dirinya sejak dini, dan berani mencari dukungan sebelum semuanya terasa terlambat. Namun pada saat yang sama, kampus juga perlu hadir bukan hanya ketika kasus sudah viral, melainkan jauh sebelum seorang mahasiswa harus menangis histeris di lantai agar suaranya didengar. Karena pada akhirnya, gelar sarjana yang sehat bukan hanya soal siapa yang berhasil lulus, tetapi juga soal siapa yang tetap utuh secara jiwa ketika sampai di garis akhir.

Referensi:

Auerbach, R. P., Mortier, P., Bruffaerts, R., Alonso, J., Benjet, C., Cuijpers, P., … & Kessler, R. C. (2018). WHO world mental health surveys international college student project: Prevalence and distribution of mental disorders. Journal of Abnormal Psychology, 127(7), 623–638.

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer.

Selye, H. (1956). The stress of life. McGraw-Hill.

Zamroni, Z. (2015). Prevalensi stres akademik mahasiswa. Psikoislamika: Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam, 12(2), 51–57. https://doi.org/10.18860/psi.v12i2.6404

psikogenesis.org

psikogenesis.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Our Love Has Gone Cold

Ilustrasi “Our Love Has Gone Cold” Sumber: Dok. Pribadi β€Žπ„ƒπ„‚π„‚π„€π„π„ƒπ„‚π„‚π„ƒπ„ƒπ„‚π„‚β€Žπ„ƒπ„‚π„‚π„€π„π„ƒπ„‚π„‚π„ƒπ„ƒπ„‚π„‚β€Ž asked you simple things and you answered, β€œI don’t know.”