
Foto Bersama Tim PKM RSH FPsi UNM
Sumber: Dok. Pribadi
Psikogenesis, Senin (02/11) – Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Sosial Humaniora (RSH) Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 setelah melalui berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal.
Muh. Rafli Hidayatullah. A selaku ketua tim PKM-RSH yang mewakili FPsi ke PIMNAS menyatakan rasa gembira dan syukurnya.
“Saya selaku salah satu ketua tim PKM-RSH yang mewakili Fakultas Psikologi ke PIMNAS tentu sangat gembira karena untuk sampai di titik ini perlu banyak pengorbanan dan sangat tidak mudah. Makanya, ketika saya mengetahui tim saya lolos, saya benar-benar bersyukur,” tuturnya.
Rafli mengungkapkan, tantangan terberat dari sisi internal yang dirinya rasakan adalah motivasi yang naik turun. Dikarenakan, dirinya pribadi baru mengetahui dan mendapati proses yang terasa cukup menantang, dalam menjalani PKM ini.
“Kalau berbicara tantangan, dari sisi internal yang menjadi tantangan terberat itu motivasi. PKM ini bukan kompetisi yang prosesnya cepat, bahkan hampir setahun penuh. Seingat saya, saya memulai PKM ini pada bulan Februari kemarin, mulai dari tahap pencarian ide, pendaftaran, lolos tahap internal/proposal, tahap pendanaan, sampai ke PIMNAS. Di proses tersebut, motivasi tentu ada naik turunnya, semangat juga pasti ikut naik turun,” ungkapnya.
Rafli menambahkan, tantangan lainnya adalah membagi waktu antara menjalani PKM secara serius, menyelesaikan skripsi, dan melaksanakan Kuliah Kerja Praktik (KKP).
“Tantangan selanjutnya yaitu waktu. Di satu sisi waktu itu masih aktif kuliah, di sisi lain PKM ini sudah mulai menuntut untuk diseriusi. Di masa sekarang ini saya sedang berada di fase skripsi, bersamaan dengan masa KKP, jadi sampai sekarang pun tantangan itu masih terasa,” tambahnya.
Selain faktor internal, Rafli bersama timnya juga merasakan tantangan eksternal, yakni jarak yang cukup jauh antara rumah, kampus, dan tempat latihan tim.
“Kalau dari faktor eksternal, tantangan yang paling saya rasakan sebenarnya hal yang cukup sederhana, yaitu jarak. Rumah saya ke kampus maupun ke tempat latihan tim lumayan jauh, jadi selama menjalankan PKM ini benar-benar banyak hal yang harus dikorbankan, mulai dari waktu, tenaga, sampai biaya. Bukan cuma saya yang merasakan, teman-teman satu tim juga sama. Kami semua pernah ada di titik harus mengorbankan kepentingan pribadi demi penelitian ini,” jelasnya.
Sebagai ketua, tantangan lain yang dihadapi Rafli adalah menjaga semangat dan motivasi timnya, terlebih ketika mereka harus melakukan pergantian anggota hingga tiga kali.
“Sebagai ketua tim, tantangan berikutnya tentu bagaimana caranya menjaga semangat dan motivasi teman-teman agar tetap konsisten sampai akhir. Apalagi kalau cerita soal dinamika tim kami, jujur cukup panjang dan lumayan rumit. Kami beberapa kali harus melakukan pergantian anggota. Total, kami sampai tiga kali melakukan pergantian anggota, sampai akhirnya dipertemukan dengan anggota dari Teknik Informatika yang bertahan dan tetap bersama tim kami sampai sekarang,” lanjutnya.
Rafli juga mengungkapkan tantangan dalam proses penelitian yang panjang. Baik dari segi pemilihan serta penggunaan metode penelitian, hingga pada proses latihan yang memakan cukup banyak waktu.
“Kalau dari sisi penelitian, tantangannya juga tidak kalah besar. Penelitian kami menggunakan metode mixed methods, sehingga prosesnya cukup kompleks dan panjang. Banyak tahapan yang harus kami lalui. Setelahnya, kami kembali fokus mempersiapkan PKP2 (Baca: Penilaian Kemajuan Pelaksanaan) selama kurang lebih satu bulan. Bahkan, tidak jarang kami satu tim latihan sampai dini hari demi memastikan semuanya benar-benar siap,” ungkapnya.
Menjelang keberangkatan ke PIMNAS, Rafli bersama timnya terus mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun mental.
“Untuk persiapan menuju PIMNAS, tentunya fisik dan mental harus benar-benar siap. Saya sudah mewanti-wanti tim saya untuk tetap menjaga kesehatan fisik. Latihan yang kami lakukan juga tetap diperhatikan, tapi jangan terlalu ditekan supaya tidak stres, takutnya ada yang merasa tertekan,” tuturnya.
Sebagai penutup, Rafli menyampaikan harapan pribadi terhadap pencapaian tim serta harapannya kepada Fakultas Psikologi dalam mendukung mahasiswa yang mengikuti berbagai ajang kompetisi.
“Harapan pribadi tentu hasil yang maksimal. Saya sendiri tidak mengharap hasil yang sempurna, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Harapan selanjutnya, saya tujukan kepada pihak fakultas, khususnya Psikologi, agar terus menjaga kualitas dan dukungannya, atau bahkan lebih baik lagi, kepada adik-adik mahasiswa yang mengikuti ajang kompetisi,” pungkasnya.
(EYES)










