
Dokumentasi Foto Bersama Pengurus FSI FPsi UNM Periode 2026-2027
Sumber: Dok. Pribadi
Psikogenesis, Senin (02/11) – Forum Studi Islam (FSI) Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) mulai mematangkan berbagai persiapan untuk menghadapi periode kepengurusan baru. Langkah awal difokuskan pada perencanaan program kerja, penjaringan pengurus, penguatan internal, hingga komunikasi dengan alumni.
Nahda selaku Mas’ul (Ketua Umum FSI), mengungkapkan bahwa tahapan awal persiapan berfokus pada pengisian posisi penting dalam kepengurusan dengan mengajak para kader bergabung. Langkah ini membuahkan hasil, yakni bertambahnya jumlah pengurus dibandingkan periode sebelumnya.
“Yang paling pertama itu cari pengurus dulu, melengkapi posisi-posisi penting. Saya tidak menjanjikan bahwa semuanya akan mudah, tetapi yang bisa saya pastikan adalah pasti ada pengembangan dalam diri mereka (pengurus baru),” ungkapnya.
Selain mencari pengurus, FSI mulai menjalankan kegiatan usaha dan menyiapkan pelatihan untuk membantu pengurus memahami aturan Keluarga Mahasiswa (KEMA) FPSI UNM. Rencana organisasi juga disusun melalui diskusi bersama alumni dan dewan pembina.
“Banyak saran dari kakak-kakak alumni dan pembina, tetapi kami sebagai pengurus harus memilih mana yang bisa didahulukan dan sesuai dengan kemampuan kami,” jelasnya.
Untuk program kerja, FSI menetapkan Islamic Studies Training (IST) sebagai kegiatan utama untuk melanjutkan kaderisasi dan membangun kebersamaan antaranggota. Selain itu, FSI berupaya menghadirkan kembali program Camping Bocah Muslim (C-BOM), program unggulan yang tidak terlaksana selama dua tahun.
“C-BOM itu program unggulan FSI dan dinantikan alumni maupun dosen. Lewat program ini, mahasiswa psikologi juga bisa mendapatkan pengalaman menjadi relawan,” ungkapnya.
Dalam menghadapi masalah internal, seperti konflik dan rasa jenuh pengurus, Nahda menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan kedekatan antaranggota sejak awal kepengurusan.
“Prinsip saya sebagai pemimpin di FSI, tantangan itu harus dihadapi dan tidak bisa dihindari. Salah satu hal terpenting untuk melewatinya adalah bonding, agar terbangun ikatan emosional dan saling memahami karakter,” tegasnya.
Terakhir, Nahda berharap kepengurusan baru ini dapat meningkatkan kualitas program kerja FSI sekaligus menjadi wadah untuk memberikan pengetahuan tentang kemudahan beribadah sehari-hari bagi mahasiswa.
“Harapan terbesar saya adalah bisa membawa FSI menjadi lebih baik, meningkatkan kualitas proker, serta membagikan wawasan yang memudahkan ibadah harian mahasiswa,” harapnya.
(IDL)










