Foto Bersama Pelatihan
Sumber: Dok. Pribadi
Psikogenesis, Selasa (26/05) – Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) bekerja sama dengan Siloam Hospitals Makassar menggelar pelatihan bertajuk “respons awal kedaruratan kesehatan dan sosialisasi Modul Digital Intervensi Psikologi Sosial (MODIS)” di Aula MTM FPsi UNM pada Kamis (21/05).
Kegiatan pelatihan dipandu oleh Muhammad Rifki Anton selaku petugas Siloam Hospitals Makassar dengan materi respons awal kedaruratan kesehatan. Selanjutnya, peserta mengikuti sosialisasi MODIS yang disampaikan oleh Fadillah Fira Firmanillah. Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman mengenai langkah awal penanganan korban, teknik pengecekan pernapasan dan denyut nadi, hingga tata cara kompresi dada, pemberian bantuan napas pada berbagai kondisi korban, serta penentuan prioritas penanganan saat menghadapi banyak korban dalam situasi darurat.
Salah satu peserta kegiatan, Widya Putri H mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan berlangsung seru sebab peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan mencoba mempraktikkan teknik pertolongan darurat.
“Seru sekali, karena dibiarkan bertanya sepuasnya oleh ahlinya terus dibolehkan naik satu persatu untuk coba praktekkan,” ungkapnya.
Mahasiswa yang akrab disapa Widya itu juga menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat penting karena memberikan bekal pengetahuan pertolongan pertama yang dapat digunakan dalam situasi darurat yang tidak terduga.
“Penting sekali, tidak ditau keadaan diluar sana nanti, atau ada hal-hal gawat terjadi sama keluarga ta, setidaknya bisa dilakukan pertolongan pertama” jelasnya.
Peserta lainnya, Nurcahya juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat penting karena seharusnya dapat menjadi standar pemahaman dasar mengenai pertolongan pertama di berbagai lingkungan, seperti sekolah, rumah, kampus, maupun masyarakat.
“Sangat penting, karena menurut saya kegiatan ini harusnya bisa jadi standarisasi untuk setiap lingkungan, baik di sekolah, rumah, kampus, atau di lingkungan masyarakat untuk diberikan pemahaman mendasar,” ungkapnya.
Lanjut, Widya juga menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, dirinya mendapatkan pengalaman baru untuk mencoba mempraktikkan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) secara langsung. Widya mengaku terkejut sebab ternyata CPR lebih sulit dari yang dibayangkannya.
“Mencoba melakukan CPR, ternyata sesusah itu apalagi katanya kalau nanti manusia asli lebih susah dilakukan CPR karena tulang rusuk manusia meski elastis itu, tulangnya itu kuat,” ujarnya.
Sebagai penutup, Cahya berharap agar kegiatan serupa dapat diterapkan di berbagai tempat sehingga semakin banyak masyarakat yang mendapatkan pemahaman dasar tentang pertolongan pertama. Cahya juga berharap agar seluruh peserta lebih siap, berani, dan mampu berpartisipasi dalam situasi darurat ketika dibutuhkan di masa mendatang.
“Semoga bisa diberlakukan dilain juga. Harapan terhadap diri saya dan peserta lain, setidaknya bisa berguna di masa depan apabila dihadapkan pada kejadian seperti itu, kami tidak tinggal diam dan ikut berpartisipasi karena kami sudah memahami dasarnya. Terpenting adalah harapannya semoga kami bisa memberanikan diri apabila dihadapkan hal seperti itu,” tutupnya.
(ONE)












