
Foto Bersama Mahasiswa Magang Psikologi UNM, Dosen Pendamping Lapangan, dan Human Capital Lembaga X
Sumber: Dok. Pribadi
Mahasiswa Magang Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan program Work Load Analysis (WLA) dengan pendekatan Full Time Equivalent (FTE) pada karyawan Lembaga X (Disamarkan) pada Selasa-Jumat (07/04-08/05) lalu. Program ini dilaksanakan oleh Andi Saputra dan Syawaliah Nurul Fitriah yang didampingi oleh dosen pembimbing lapangan, Abdul Rahmat dan Noviyanti Pratiwi. Kegiatan ini melibatkan 19 karyawan Lembaga X sebagai responden dalam proses pengumpulan data beban kerja.
Program ini diwujudkan berdasarkan kebutuhan Human Capital Lembaga X untuk memperoleh gambaran beban kerja karyawan secara lebih terukur. Melalui WLA dengan pendekatan FTE, lembaga dapat mengetahui kondisi beban kerja karyawan, baik dalam kategori underload, normal, maupun overload.
Dika (Nama disamarkan) selaku Human Capital Lembaga X menilai bahwa program ini dapat membantu lembaga dalam mengevaluasi pembagian tugas serta kebutuhan sumber daya manusia ke depan.
“Program WLA ini dibutuhkan untuk melihat kondisi beban kerja karyawan secara lebih objektif, sehingga hasilnya dapat menjadi bahan evaluasi dalam pembagian tugas, efektivitas kerja, dan kebutuhan SDM ke depannya,” ujarnya.
Dalam proses pelaksanaan, mahasiswa melakukan wawancara terstruktur kepada karyawan untuk memperoleh informasi mengenai tugas pokok, tugas tambahan, frekuensi pekerjaan, serta durasi waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan. Selain itu, mahasiswa juga mengumpulkan data pendukung berupa struktur organisasi dan uraian pekerjaan karyawan.
Andi Saputra selaku mahasiswa magang menjelaskan bahwa WLA dengan pendekatan FTE digunakan untuk menilai kesesuaian antara beban kerja dan waktu kerja efektif yang tersedia. Hasil analisis tersebut dapat memberikan gambaran mengenai bagian atau posisi yang memiliki beban kerja rendah, sesuai, maupun berlebih.
“Overload menunjukkan bahwa beban kerja karyawan sudah melebihi kapasitas waktu kerja efektif. Karena itu, hasil WLA penting untuk melihat bagian mana yang perlu dievaluasi, baik dari sisi pembagian tugas, prioritas pekerjaan, maupun kebutuhan tenaga kerja,” jelasnya.
Syawaliah Nurul Fitriah menambahkan bahwa selain penggunaan metode WLA dengan pendekatan FTE, program ini juga melaksanakan pengisian Employee Well-Being Scale (EWBS) sebagai data tambahan untuk memperoleh gambaran umum mengenai kondisi kesejahteraan karyawan.
“EWBS digunakan sebagai data pendukung untuk melihat gambaran umum kondisi karyawan. Namun, fokus utama program ini tetap pada pelaksanaan analisis beban kerja menggunakan WLA dengan pendekatan FTE,” ungkapnya.
Berdasarkan temuan awal, terdapat beberapa karyawan Lembaga X yang memiliki beban kerja berlebih. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pembagian tugas, prioritas pekerjaan, serta kebutuhan tenaga kerja agar beban kerja karyawan dapat lebih seimbang.
Melalui program ini, mahasiswa berharap hasil analisis beban kerja dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Lembaga X dalam meningkatkan efektivitas kerja. Selain itu, hasil kegiatan ini juga diharapkan dapat mendukung pengelolaan sumber daya manusia yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan lembaga.
(Andi/Syawaliah)












