
Ted Bundy
Sumber: Pinterest
Mari kita berkenalan dengan salah satu sosok pemuda tampan, terpelajar, dan karismatik. Namun dibalik semua itu, tersimpan kegelapan mengerikan. Theodore Robert Bundy (24 November 1946 β 24 Januari 1989) atau akrab dengan nama Ted Bundy merupakan salah satu pembunuh berantai yang menjadi mimpi buruk bagi Amerika Serikat. Dia menculik, memerkosa, hingga membunuh banyak wanita muda pada tahun 1974 hingga 1978.
Selama bertahun-tahun, psikologi forensik dan psikiatri memberikan label pada pelaku kejahatan keji semacam ini dengan satu penjelasan mudah yaitu kompulsi patologis. Bundy dipandang sebagai korban dari dorongan biologis dan psikologis yang besar hingga dirinya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Namun, anggapan tersebut memunculkan sebuah pertanyaan. Apakah penjelasan tersebut, menjelaskan kisah Bundy seutuhnya?
Salah satu penelitian oleh pakar kriminologi D.J. Williams (2019) yang diterbitkan dalam jurnal Leisure Sciences berjudul βIs Serial Sexual Homicide a Compulsion, Deviant Leisure, or Both? Revisiting the Case of Ted Bundyβ memberikan wawasan menarik pada kasus Bundy.
Penelitian ini menawarkan lensa psikologis baru bernama Forensic Leisure Science (Sains Rekreasi Forensik). Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis secara mendalam transkrip wawancara 298 halaman serta rekam jejak kejahatan Bundy. Hasilnya, Penelitian ini menemukan fakta psikologi yang mengejutkan. Realitanya, aksi pembunuhan berantai Bundy tidak sekadar lahir dari kegilaan tanpa kendali, melainkan dikerjakan layaknya sebuah rekreasi menyimpang (deviant leisure) yang sangat terstruktur, matang, dan dinikmati secara sadar.
Kejahatan Menjadi Hobi
Dalam psikologi rekreasi, dikenal konsep bernama Serious Leisure Perspective (SLP). Konsep ini menjelaskan bagaimana seseorang menekuni hobi tingkat tinggi seperti menjadi atlet maraton atau pemusik professional. Berbeda dengan hobi umumnya, hobi-hobi ini membutuhkan komitmen waktu, pengembangan keterampilan, latihan tekun, serta pencarian kepuasan internal.
Studi menemukan ternyata polanya mirip dengan pola kejahatan Bundy. Dalam transkrip wawancaranya bersama jurnalis Stephen Michaud, Bundy blak-blakan membandingkan sensasi memburu dan membunuh korbannya dengan kepuasan rekreasi yang umum seperti meraih skor sempurna saat bermain bowling, ketegangan olahraga tenis, terjun payung, hingga berburu rusa di hutan. Hal ini mencerminkan bahwa kejahatan Bundy bukanlah sekedar luapan emosi sesaat melainkan sebuah proyek rekreasi.
Tidak hanya itu, Bundy melalui proses belajar yang bertahap untuk membentuk identitas kejahatannya. Di masa muda, Bundy mengasah teknik pengintaian dan pencurian hanya untuk mencari sensasi hiburan. Seiring waktu, Bundy menyempurnakan keterampilannya dengan mempelajari strategi kepolisian, melatih trik kepribadian dan manipulasi, merias diri untuk penyamaran, serta mengkalkulasi lokasi pembuangan mayat.
Kontrol Diri yang Utuh
Salah satu argumen terkuat bahwa Bundy memiliki kontrol kognitif utuh adalah kemampuannya melakukan sintesis risiko dan negosiasi hambatan (constraints negotiation). Ketika seorang pembunuh bertindak semata-mata karena dorongan kompulsi yang tak tertahankan, mereka cenderung bertindak tanpa memperdulikan situasi sekitar. Namun, berbeda dengan Bundy yang menunjukkan pola berpikir yang utuh. Saat Bundy melakukan aksinya dan merasa kondisi beresiko tinggi untuk tertangkap, ia secara sadar menunda atau mengganti tindakan pembunuhan dengan tingkat kejahatan yang lebih rendah, seperti pemerkosaan atau perampokan.
Tidak hanya itu, Bundy juga mengelola konflik moral di dalam dirinya dengan meyakinkan dirinya bahwa para korban tidak akan dicari serta memanfaatkan konsumsi alkohol secukupnya hanya untuk menekan inhibisi moral tanpa merusak kecermatan aksinya.
Bagi bundy, mengelabui korban, memperdaya aparat penegak hukum, hingga memanipulasi persidangan adalah sebuah permainan yang mendatangkan kepuasan ego luar biasa. Bahkan Bundy memiliki kebiasaan untuk menyimpan piala dari tubuh korban. Hal tersebut mencerminkan perilaku seorang kolektor yang menikmati hasil dari hobinya.
Dalam penelitiannya, Williams juga menunjukkan bahwa kompulsi dan pilihan rasional bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang, melainkan berjalan dalam satu garis. Perilaku rekreasi ekstrem dapat berevolusi menjadi perilaku yang bersifat adiktif atau seperti kompulsi jika dilakukan secara terus-menerus.
Pada kasus Ted Bundy, ditemukan bahwa fondasi utama dari seluruh aksinya merupakan rangkaian perencanaan, keputusan rasional, serta pencarian kepuasan pribadi yang dipilih secara sadar.
Referensi:
– Williams, D J (2019). Is Serial Sexual Homicide a Compulsion, Deviant Leisure, or Both? Revisiting the Case of Ted Bundy. Leisure Sciences, (), 1β19. doi:10.1080/01490400.2019.1571967
– Wikipedia. Ted Bundy.
(RBN)












