
Sampul “Please Look After Mom“
Sumber: Pinterest
Tentang Ibu yang Tidak Pernah Sempat Kita Kenal
Pernahkah kita berada pada titik yang membuat kita menghargai suatu keberadaan? Misalnya boneka kesayangan yang telah kita miliki disaat masih balita. Sewaktu masih diusia tersebut, boneka itu adalah teman bermain yang terbaik kita miliki. Namun, sewaktu menginjak remaja, boneka itu telah menjadi pajangan dalam lemari yang kita miliki. Pada suatu waktu di usia dewasa, kita melihat kembali lemari itu, dan menyadari bahwa boneka yang telah menemani masa kecil kita, telah hilang. Meski benda mati, tapi ada perasaan yang melekat dalam boneka itu, sekilas rasa hampa akan muncul dan mendiami diri kita. Momen masa kecil kita yang indah mengenai boneka itu, akan muncul semua.
Tapi, bagaimana jika yang hilang itu adalah Ibu? Bayangkan, tanpa ada perasaan apapun sebelumnya, kita mendapat kabar bahwa Ibu kita telah hilang. Perasaan kaget, panik, dan sedih, semua mencampur jadi satu. Novel yang akan kita bahas berjudul Please Look After Mom. Please Look After Mom adalah sebuah novel yang ditulis oleh Shin Kyung-Sook, seorang penulis asal Korea Selatan. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2008. Terbitan novel yang dibaca dalam menulis pembahasan ini adalah terjemahan Indonesia yang rilis tahun 2020 dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku ini terbagi menjadi lima bagian, dengan masing-masing bagian memiliki penceritaan tersendiri.
Sebagai penggambaran awal, Please Look After Mom bercerita tentang lima bersaudara yang mencari Ibunya, setelah mendapatkan kabar bahwa Ibunya hilang karena tertinggal kereta pada saat berada di Stasiun Seoul. Sontak, kepanikan menyergah seluruh keluarga saat mengetahui Ibu mereka telah hilang. Penceritaan dalam buku ini kebanyakan mengenai momen masa lalu yang penuh rasa bahagia dan penyesalan ketika mengingat sosok Ibu mereka. Penceritaan dalam novel mengambil pandangan dari Chi-hon yaitu anak ketiga dan juga putri pertama. Kemudian Hyong-Chol anak pertama sekaligus putra sulung, Park So-nyo atau Ibu itu sendiri, kemudian pandangan-pandangan lain dari Ayah dan juga anak perempuan terakhir dari keluarga mereka.
Gambaran Singkat Tiap Bagian
Bagian Pertama menceritakan mengenai seminggu pasca kehilangan Ibu, semua keluarga berpikir untuk mencari cara terbaik dalam metode menemukan Ibu mereka, akhirnya semua sepakat untuk menggunakan selebaran dengan nominal tertentu yang disematkan dalam selebaran itu. Penggambaran mengenai pandangan anak mereka pada Ibu-nya cukup menyedihkan saat dibaca. Mereka tidak memiliki foto terbaru sang Ibu, karena Ibu tidak ingin ikut foto bersama pada saat momen-momen tertentu. Akhirnya, mereka menggunakan foto lama yang memiliki wajah Ibu mereka. Bagian pertama ini menjadi momen awal penyadaran bahwa mereka sangat tidak mengenal Ibu nya sendiri. Banyak hal mengenai Ibu mereka yang muncul pada saat kehilangan itu begitu nyata dihadapan mereka.
Bagian kedua menceritakan mengenai Hyong-Chol, anak sulung dari lima bersaudara ini. Hyong-Chol adalah anak yang dalam penceritaan sangat di spesialkan oleh Ibu, karena Hyong-Chol diharapkan menjadi wajah keluarga. Ia pintar dan berbakat dalam ranah akademik, sehingga Ibu memberikan perlakuan khusus kepada anak sulungnya itu. Tapi, pandangan Ibu sungguh memilukan, karena ia merasa bahwa segala pemberian kepada anak sulungnya masih sangat kurang, sehingga Ibu memiliki perasaan menyesal yang begitu dalam kepada anak sulungnya, bahkan isak tangis sampai muncul dalam perasaan menyesal Ibu. Bagian ini juga menggambarkan perasaan Hyong-Chol, sang anak pertama yang merasa belum memberikan apa-apa kepada Ibunya. Ia memimpikan membelikan Ibunya sebuah rumah di kota, sehingga mereka mampu dekat satu sama lain. Tapi, harapan itu kian mengakar dan membesar pada saat Ibu mereka hilang, dan berubah menjadi sebuah penyesalan.
Bagian ketiga menceritakan mengenai pandangan dari Ayah, atau suami dari Ibu. Bagian ini juga bagian yang memilukan dan sedih bagi diriku pribadi. Rasa penyesalan yang begitu dalam sangat menusuk. Bayangkan, hidup lima puluhan tahun bersama, dan sangat sedikit hal yang kamu ketahui mengenai pasanganmu. Sungguh hal yang sangat keterlaluan. Bagian ini menceritakan saat Ayah pulang ke rumah tempat Ia tinggal dengan Ibu. Ayah merasakan kesunyian yang begitu dalam karena hilangnya sosok Ibu. Bagian ini banyak menceritakan mengenai momen saat Ayah memperlakukan Ibu begitu buruk. Wajah patriarki sejati terdapat dalam bagian ini.
Bagian keempat adalah bagian yang sedih, karena bagian ini menampilkan Ibu yang mendatangi anak-anaknya dan menjadi sosok yang tembus pandang. Bagian ini secara implisit menjadi bagian dimana Ibu mengucapkan salam perpisahan kepada anak-anaknya. Setelah sembilan bulan lamanya tidak ditemukan. Ini adalah momen perpisahan. Sungguh sedih, karena pada akhirnya Ibu tidak bisa ditemukan.
Bagian terakhir bercerita mengenai Chi-hon yang sedang berada di Vatikan. Perlu diketahui, Chi-hon pernah diberitahukan oleh Ibunya mengenai keinginan Ibunya dibawakan oleh-oleh sebuah Rosario Merah dari negara paling kecil sedunia. Meski tidak sampai ke tangan Ibunya, Chi-hon membeli Rosario itu dan berharap Ibunya selalu dijaga. Ia memohon di depan patung perempuan suci yang sedang mendekap anaknya yang telah tiada.
Tak ada Kesempatan Kedua Untuk Mengenal Ibu
Kita selalu hidup dengan asumsi bahwa Ibu akan sellau ada. Bahwa selalu ada waktu untuk bertanya lebih dalam mengenai hidup Ibu, memahami luka yang tidak pernah diceritakannya pada siapapun. Novel Please Look After Mom membuka sebuah kenyataan yang tidak nyaman, bahwa orang yang paling dekat dengan kita, justru yang paling tidak kita kenal. Kita mengenal peran Ibu kita seperti apa, namun tidak mengenal siapa Ibu kita sebenarnya ketika seluruh peran “Ibu” itu dilepas.
Kehilangan Ibu dalam novel Please Look After Mom begitu menyakitkan, bukan karena sosok yang hilang semata, namun kesadaran yang datang terlambat. Sadar bahwa masih banyak tanya yang belum tersampaikan kepada Ibu, rasa syukur dan apresiasi yang tak pernah sampai kepada Ibu. Pada titik ini, pencarian pada Ibu bukan lagi mencari sosok yang hilang, namun tentang menemukan makna yang selama ini diabaikan terhadap sosok Ibu. Dan realita pahitnya, seluruh keinginan kita tidak semua bisa tercapai, seperti dalam novel ini yang memperlihatkan bahwa seluruh usaha sia-sia, dan tidak semua hal yang kita inginkan bisa dicapai. Termasuk menemukan Ibu kembali.
Pertanyaan yang muncul bukan lagi seberapa dalam penyesalan ketika kehilangan terjadi, namun seberapa jauh kita berani mengenal Ibu kita selagi ia masih ada. Apakah kita benar-benar tahu apa yang ia rasakan? Apa yang ia takutkan? Atau apa yang Ibu harapkan dari hidupnya? Jangan sampai kita puluhan tahun hidup bersama Ibu kita, namun tidak pernah betul-betul mengenalnya.
Jangan tunggu kehilangan datang untuk kita mulai mengenal, jangan tunggu sepi muncul untuk mulai peduli. Karena ketika kehilangan datang, yang tersisa bukan lagi kesempatan untuk memperbaiki, melainkan penyesalan yang akan terus tinggal dan tak pernah benar-benar hilang.











