
Poster The Odd Life of Timothy Green (2012)
Sumber: Dok. Pribadi
Pernahkah Anda membayangkan seperti apa rasanya memiliki anak yang sempurna? Anak yang lahir dari harapan. The Odd Life of Timothy Green (2012) mencoba menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sederhana.
Film yang digarap Peter Hedges ini mengisahkan pasangan Jim dan Cindy Green. Mereka adalah pasangan harmonis yang sangat mendambakan seorang anak. Namun takdir berkata lain, secara medis mereka tidak mampu memiliki anak secara biologis. Di suatu malam dengan luka yang mendalam, mereka memutuskan untuk menyuarakan imajinasi mereka. Imajinasi akan anak sempurna yang tidak akan pernah mereka miliki. Meski takdir tak berpihak, namun keajaiban bertindak. Mereka menemukan sosok anak bernama Timothy dan memutuskan mengadopsinya seperti anak sendiri.
Timothy bukan anak biasa. Ia hadir membawa kehangatan, kepolosan, dan cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Kehadirannya perlahan mengubah kehidupan Jim dan Cindy, serta lingkungan sekitar mereka. Namun di balik keajaiban itu, tersimpan kenyataan pahit: Timothy tidak akan selamanya ada.
Secara naratif, Kisah seperti ini mungkin adalah kisah yang generik. Superman dan Pinocchio bisa menjadi contoh yang baik. Meski begitu, kisah Timothy bukan sebatas anak ajaib yang mengubah hidup orang lain. Kisah Timothy adalah refleksi tentang harapan ideal orang tua pada seorang anak.
Jim adalah ayah yang memproyeksikan ambisinya kepada anakny. Jim ingin Timothy diakui, berhasil, dan mampu memenuhi standar sosial yang dianggap penting. Di sisi lain, Cindy menunjukkan bentuk ekspektasi yang berbeda. Cindy lebih protektif, namun tetap menuntut kesempurnaan dalam cara yang halus. Cindy ingin Timothy diterima, tetapi dengan standar yang dianggapnya ideal. Inilah yang menjadi konflik utama dalam film ini. Film ini dengan halus mengkritik orang tua yang sering kali menjadikan anak sebagai perpanjangan ego dengan memberikan ekspektasi atau tuntutan berlebih. Mereka lupa bahwa anak juga memiliki hak untuk memilih hidup sesuai keinginannya.
Meski tidak sesuai ekspektasi Jim dan Cindy, Timothy berhasil mewujudkan harapan tersebut dengan caranya sendiri. Daun yang gugur menjadi simbol setiap ekspektasi terwujud. Setiap itu terjadi, penonton ikut diingatkan. Timothy bukan makhluk abadi. Masa hidupnya perlahan berakhir seiring harapan tercapai. Setiap detik dari film ini adalah kebahagiaan. Kebahagiaan fana yang sengaja dibuat untuk menutupi fakta. Suatu hari Timothy akan menghilang.
Akhir kisah Timothy mungkin bukan menjadi akhir bahagia bagi Jim dan Cindy. Namun, pengalaman tersebut memberikan mereka satu pelajaran penting. Anak tidak dilahirkan untuk memenuhi daftar harapan orang tua. Mereka hadir dengan keunikan, kekurangan, dan pilihan mereka sendiri. Menjadi orang tua bukan berarti mengontrol, melainkan membimbing. Sebelum Anda lanjut bermimpi memiliki anak yang sempurna, tanyakan ke diri Anda. Apakah Anda mampu menjadi orang tua sempurna bagi calon anak Anda?
(RBN)












