
Nur Qurainun Yusuf
Sumber: Dok. Pribadi
Nur Qurainun Yusuf, Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga
Teknologi digital telah mengubah cara manusia menjalin kedekatan. Dulu, kedekatan identik dengan pertemuan langsung. Kini, seseorang bisa menjadi bagian dari keseharian kita hanya lewat pesan, panggilan suara, dan siaran langsung. Jarak bukan lagi penghalang utama untuk membangun hubungan emosional seseorang dapat menemukan teman, komunitas, bahkan pasangan dari tempat yang jauh, tanpa pernah bertatap muka. Kemudahan ini nyata dan bermanfaat. Namun, semakin mudah sebuah hubungan dibangun lewat layar, semakin penting pula kemampuan kita memahami bagaimana kepercayaan itu sebenarnya terbentuk sebab di titik inilah kerentanan baru justru muncul.
Fenomena itu mengemuka ketika kisah Khalil TokTok ramai diperbincangkan. Kreator konten asal Aceh ini disebut menjalin hubungan asmara secara virtual dengan sosok yang ia kenal lewat siaran langsung TikTok, yang mengaku bernama Nindya, bekerja sebagai dokter, dan berasal dari Bali. Komunikasi berlanjut lewat pesan pribadi hingga keduanya merasa semakin dekat tanpa pernah bertemu langsung, dan sosok tersebut disebut berulang kali menghindari panggilan video.
Kecurigaan pun muncul. Publik kemudian menduga identitas yang digunakan dalam hubungan itu tidak sesuai kenyataan, dan Khalil disebut mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Kasus ini ramai disebut sebagai love scam berbasis AI. Tapi menyederhanakannya sebagai “penipuan berteknologi canggih” saja tidak cukup persoalannya jauh lebih dalam dari itu, dan justru dimulai dari sesuatu yang sangat manusiawi: kebutuhan untuk dipercaya dan mempercayai.
Kepercayaan yang Tumbuh Tanpa Pertemuan
Ketika kasus penipuan asmara terungkap, pertanyaan yang paling sering muncul adalah, “Kenapa bisa percaya?” Pertanyaan ini terdengar wajar, tapi sebenarnya menyembunyikan asumsi keliru: bahwa kepercayaan hanya bisa lahir dari pertemuan tatap muka. Dalam Attachment Theory milik John Bowlby, keterikatan emosional terbentuk dari rasa aman, perhatian, dan respons yang konsisten bukan dari kehadiran fisik semata. Ketika seseorang menerima perhatian secara rutin, didengarkan ceritanya, dan merasa dipahami, keterikatan bisa tumbuh sekalipun seluruh interaksi terjadi lewat layar.
Tapi di sinilah letak kerawanannya: keterikatan yang bisa tumbuh tanpa pertemuan fisik juga berarti bisa dibangun secara sengaja oleh pihak yang tidak jujur soal siapa dirinya. Berbeda dari penipuan biasa yang mengandalkan kebohongan soal produk atau informasi, romance scam bekerja dengan cara membangun hubungan emosional terlebih dahulu, baru kemudian memanfaatkan kepercayaan yang sudah telanjur terbentuk. Persoalannya bukan lagi “apakah korban mudah percaya”, tapi bagaimana rasa percaya itu direkayasa dari sisi yang paling personal.
Ketika Keterbukaan Dipercepat oleh Layar: Saat Kepercayaan dan Uang Sama-Sama Dipertaruhkan
Keterikatan yang tumbuh diam-diam itu dipercepat oleh fenomena lain: The Online Disinhibition Effect yang diperkenalkan John Suler. Tanpa tatap muka langsung, seseorang cenderung merasa lebih bebas menceritakan hal-hal pribadi keluarga, pekerjaan, harapan tentang masa depan. Percakapan yang tadinya sederhana bisa berubah jadi sangat intim hanya dalam hitungan minggu.
Semakin banyak hal pribadi yang dibagikan, semakin besar pula perasaan bahwa kita “mengenal” orang itu. Tapi mengenal cerita seseorang tidak sama dengan mengetahui identitas sebenarnya. Justru keterbukaan yang dipercepat inilah yang membuat verifikasi terasa tidak perlu bukankah kita sudah “kenal dekat”?. Di titik ini, teknologi menjadi pedang bermata dua: mempermudah komunikasi, sekaligus mempermudah seseorang menyembunyikan siapa dirinya yang sesungguhnya, termasuk lewat identitas visual yang direkayasa AI seperti dalam kasus Khalil.
Begitu kepercayaan itu terbongkar, dampaknya tidak berhenti di kerugian finansial. Rasa aman terhadap orang lain ikut terguncang. Rasa kecewa, malu, dan sulit mempercayai orang lain kembali adalah respons yang wajar muncul setelah pengalaman semacam ini. Stress and Coping Theory dari Lazarus dan Folkman menjelaskan bahwa stres bukan semata ditentukan oleh kejadiannya, melainkan oleh bagaimana seseorang memaknai kejadian itu dan sumber daya yang ia punya untuk menghadapinya. Dukungan keluarga, teman, dan kemampuan mencari bantuan profesional bisa menjadi bagian penting dari pemulihan.
Β Tapi dukungan semacam itu tidak selalu tersedia justru rasa malu akibat “tertipu” sering membuat korban memilih diam, alih-alih mencari bantuan. Di sinilah pemulihan menjadi lebih sulit dari yang seharusnya, dan persoalan bergeser dari sekadar “bagaimana pulih” menjadi “bagaimana agar situasi seperti ini bisa dicegah sejak awal”.
Kesadaran yang Datang Sebelum sebagai Bekal, Bukan Sesudah sebagai Penyesalan
Health Belief Model dari Rosenstock menjelaskan bahwa perilaku pencegahan muncul ketika seseorang menyadari bahwa dirinya juga berpotensi menjadi korban serta memahami bahwa dampak yang ditimbulkan dapat bersifat serius. Kesadaran tersebut kemudian mendorong individu untuk meyakini bahwa langkah-langkah pencegahan akan memberikan manfaat dan hambatan yang ada masih dapat diatasi. Dalam konteks hubungan digital, ini berarti memverifikasi identitas lawan bicara, tidak terburu-buru berbagi informasi pribadi, dan berdiskusi dengan orang terdekat ketika muncul keraguan.
Masalahnya, kesadaran semacam ini biasanya baru tumbuh setelah seseorang mengalami sendiri atau menyaksikan kasus seperti Khalil TokTok bukan sebelum risiko itu datang. Padahal literasi psikologis semacam ini seharusnya menjadi bekal awal, bukan pelajaran yang dipetik setelah kerugian terjadi.
AI memang membuat identitas palsu menjadi lebih meyakinkan. Tapi teknologi hanya bekerja dengan memanfaatkan sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia: kebutuhan untuk terhubung, didengarkan, dan dipahami. Kebutuhan itu bukan kesalahan justru bagian penting dari menjadi manusia. Masalah muncul ketika kebutuhan itu dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya literasi digital, melainkan literasi psikologis: memahami bagaimana rasa percaya terbentuk, bagaimana keterikatan berkembang, dan bagaimana manipulasi emosional bisa terjadi di ruang yang terasa paling pribadi sekalipun.
Β Khalil TokTok mungkin bukan kasus terakhir, dan siapa pun bisa berada di posisinya termasuk kita, atau orang yang kita sayangi. Maka mari jadikan kisah ini bukan sekadar bahan perbincangan, tapi pengingat untuk saling menjaga: percaya boleh, dekat boleh, tapi verifikasi dan keberanian untuk bertanya harus tetap ada. Sebab terkadang, cinta paling nyata yang bisa kita berikan pada orang terdekat adalah keberanian untuk berkata, “Coba kita pastikan dulu, ya.”
Daftar Pustaka
Cenceng. (2015). Perilaku kelekatan pada anak usia dini (Perspektif John Bowlby). Lentera, 19(2), 141β153. Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer.
Rosenstock, I. M. (1974). The health belief model and preventive health behavior. Health Education Monographs, 2(4), 354β386.
Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321β326.












