
Dokumentasi Kegiatan Pemilihan Bapak Ibu Suku, Mahasiswa FPsi UNM Angkatan 2026
Sumber: Dok. Pribadi
Psikogenesis, Rabu (28/10) – Pemilihan Bapak dan Ibu Suku Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) Angkatan 2026 menjadi bagian dari proses pengenalan peran mahasiswa dalam lingkungan Keluarga Mahasiswa (Kema) Fakultas Psikologi UNM. Keduanya berperan penting sebagai penghubung antara mahasiswa baru dan masyarakat Kema, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MAPERWA).
Proses pemilihan diawali dengan pertemuan mahasiswa baru bersama BEM KEMA F.Psi UNM melalui Zoom pada Rabu (14/10). Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa baru memperoleh penjelasan mengenai Bapak dan Ibu Suku, termasuk tugas dan tanggung jawab yang akan diemban. Pemilihan kemudian dilaksanakan secara langsung pada pertemuan luring kedua, Kamis (15/10) di lapangan voli.
Pemilihan diikuti dua calon Bapak Suku dan dua calon Ibu Suku. Sebelum pemilihan berlangsung, para calon diberi kesempatan memperkenalkan diri dan menyampaikan alasan mencalonkan diri di hadapan mahasiswa satu angkatan. Mereka juga memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai tugas dan tanggung jawab yang akan dijalankan. Setelah pemilihan selesai, A. Ahmad Farhan Hussein M., yang lebih dikenal sebagai Farhan, terpilih sebagai Bapak Suku, sedangkan Musfira terpilih sebagai Ibu Suku. Rangkaian kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan MoU dan pelantikan Bapak dan Ibu Suku Angkatan 2026.
Musfira, atau yang akrab disapa Fira menuturkan bahwa keputusannya mencalonkan diri berawal dari ketertarikan terhadap kesempatan memperluas relasi dan memperoleh informasi. Meski demikian, dirinya sempat meragukan diri sendiri karena merasa belum dikenal oleh sebagian besar teman seangkatannya.
“Awalnya ketika mendengar tentang Ibu Suku, saya cukup tertarik dengan jabatan tersebut karena dapat memperluas relasi dan informasi. Tetapi ada keraguan dalam diri saya dikarenakan saya itu belum dikenal banyak oleh angkatan saya,” tuturnya.
Fira akhirnya memutuskan mengajukan diri ketika belum ada mahasiswa lain yang bersedia mencalonkan diri. Meski begitu, dirinya tetap menyerahkan keputusan akhir kepada teman-teman seangkatannya.
“Tetapi karena situasi sudah mulai tegang karena tidak ada yang mengajukan diri, akhirnya saya angkat tangan serta memperjelas bahwa saya merasa mampu untuk jabatan ini tetapi mereka [baca: mahasiswa Angkatan 2026] tidak mengenal saya sehingga saya kembali lagi pada persetujuan mereka,” lanjutnya.
Setelah dinyatakan terpilih, Fira mengaku terkejut dan sempat tidak mampu berkata-kata. Perasaan tersebut kemudian bercampur dengan kebanggaan, kebahagiaan, dan kekhawatiran terhadap tanggung jawab yang akan dijalankan.
“Perasaan saya pada hari itu sudah jelas terkejut. Lebih jelasnya, sedikit tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat sebelum akhirnya muncul perasaan bangga, bahagia, dan kekhawatiran untuk ke depannya,” ujarnya.
Sementara itu, Farhan memandang dengan dirinya yang terpilih sebagai Bapak Suku sebagai amanah yang disertai tanggung jawab besar. Dirinya menyadari bahwa peran tersebut menuntut keterlibatan aktif dalam menjaga hubungan antara mahasiswa baru dan masyarakat Kema.
“Yang saya rasakan itu seperti ada beban besar yang harus dipikul untuk keberlangsungan jembatan penghubung antara angkatan saya dengan masyarakat Kema FPsi UNM, baik dari instansi BEM, MAPERWA, dan sebagainya,” ujarnya.
Meski menyadari besarnya tanggung jawab tersebut, Farhan menjadikannya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri. Menurutnya, pengalaman menjalankan amanah itu akan bermanfaat bagi dirinya di masa mendatang.
“Akan saya jadikan sebagai pembelajaran pada diri saya sendiri bahwa semua itu akan bermanfaat bagi saya ke depannya,” tambahnya.
Dalam menjalankan tugas, Fira dan Farhan bertanggung jawab memastikan informasi dan arahan dari BEM maupun unsur Kema lainnya tersampaikan dengan baik kepada mahasiswa Angkatan 2026. Keduanya juga diharapkan mampu menjaga komunikasi yang terbuka serta merangkul mahasiswa dalam membangun solidaritas angkatan.
Fira menjelaskan bahwa tugas tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi, tetapi juga dengan upaya menjaga hubungan yang baik antara mahasiswa baru dan masyarakat Kema.
“Tanggung jawab kami ialah memastikan bahwa informasi dari BEM Kema FPsi tersampaikan dengan baik ke angkatan kami. Kami harus dapat merangkul angkatan kami dan memastikan komunikasi antara keduanya lancar dan transparan,” jelasnya.
Di sisi lain, Farhan menekankan pentingnya menjaga sikap dan memberi contoh yang baik bagi teman-teman seangkatannya. Dirinya juga menyadari bahwa kedudukannya sebagai Bapak Suku juga menuntutnya menjaga kepercayaan yang telah diberikan.
“Untuk tanggung jawab sendiri karena saya sebagai Bapak Suku pastinya besar, saya harus menjadi contoh bagi teman-teman mahasiswa baru dan menjaga martabat saya sebagai Bapak Suku,” tegasnya.
Sebagai penutup, Fira menyampaikan bahwa peran yang akan diemban merupakan tanggung jawab yang perlu dijalankan sebaik mungkin sesuai kemampuan. Dirinya menyadari bahwa kepercayaan teman-teman seangkatannya harus disertai komitmen dalam menjalankan tugas.
“Saya memandang peran yang saya emban sekarang sebagai tanggung jawab yang harus saya laksanakan dengan sebaik dan sebisa saya,” katanya.
Sejalan dengan itu, Farhan menilai peran Bapak Suku membutuhkan keterlibatan aktif dalam menjaga komunikasi dan solidaritas antara mahasiswa baru dan masyarakat Kema FPsi UNM.
“Saya memandang peran ini sebagai amanah dan tanggung jawab yang besar, di mana saya sebagai Bapak Suku harus berperan dan aktif untuk keberlangsungan teman-teman mahasiswa baru demi menjalani komunikasi dan solidaritas yang baik antara sesama mahasiswa baru dan masyarakat Kema FPsi UNM,” ungkapnya.
(ASTER)












