
Foto Bersama dan Sesi Pelatihan Program EMO-RE di Liebe Center Makassar
Sumber: Dok. pribadi
Psikogenesis, Rabu (23/09) – Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk EMO-RE (Emotion Regulation & Resilience) bersama Liebe Center Makassar (26/07). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis serta memperkuat kapasitas resiliensi para terapis dalam menjalankan tugas pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Pengabdi FPsi UNM yang diketuai oleh Andi Nahliah Bungawali, dengan anggota tim Diah Ayu Permatasari, dan Andi Fitri Wahyuni, serta anggota tim mahasiswa. Program ini diikuti oleh sepuluh orang praktisi dan terapis Liebe Center Makassar yang dalam pelaksanaan tugasnya senantiasa dihadapkan pada tuntutan beban emosional dalam memberikan layanan intervensi tumbuh kembang anak.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan secara sistematis, meliputi pengisian instrumen pre-test, pemberian psikoedukasi mengenai regulasi emosi berbasis proses oleh Kartika Cahyaningrum, serta simulasi terarah dalam menangani situasi kritis seperti ledakan emosi (tantrum) pada anak. Para peserta menyatakan bahwa pemberian psikoedukasi teknik relaksasi pernapasan perut (deep breathing) dan restrukturisasi kognitif (cognitive reframing) memberikan kontribusi praktis yang signifikan dalam mendukung pelaksanaan tugas kerja sehari-hari.
Program EMO-RE merupakan wujud konkret pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan penguatan pemahaman kognitif dengan penyusunan panduan operasional dalam bentuk modul. Liebe Center Makassar selaku mitra kegiatan turut memberikan dukungan penuh melalui penyediaan tempat, fasilitas pelatihan, serta pengondisian keterlibatan aktif seluruh staf terapis.
Andi Nahliah Bungawali selaku Ketua Tim Pengabdi, menjelaskan bahwa intervensi ini dirancang untuk menjaga kesehatan mental dalam bekerja para terapis guna memastikan mutu layanan terhadap anak berkebutuhan khusus tetap terjaga secara optimal.
“Terapis yang mendampingi anak berkebutuhan khusus berhadapan langsung dengan dinamika emosi harian yang sangat kompleks. Program EMO-RE ini hadir untuk membekali terapis dengan keterampilan regulasi emosi taktis agar mereka mampu mengelola stres dan terhindar dari kejenuhan kerja (burnout),” jelasnya.
Lebih lanjut, Andi Nahliah menyampaikan bahwa keberhasilan program ini ditunjukkan melalui peningkatan signifikan pada skor regulasi emosi dan resiliensi peserta pasca pemberian psikoedukasi, serta terbitnya modul panduan praktis sebagai luaran kegiatan.
“Melalui modul EMO-RE yang disusun berdasarkan kasus riil mitra, kami berupaya memastikan bahwa panduan regulasi emosi ini tidak hanya berhenti pada sesi pemberian psikoedukasi saja, melainkan dapat diakses dan diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan oleh institusi mitra,” tambahnya.
Pelaksanaan program ini dilatarbelakangi oleh kondisi aktual di lapangan, di mana para terapis kerap menghadapi situasi kritis yang bersifat spontan dan berpotensi memicu kecemasan serta stres kerja. Di samping itu, Liebe Center Makassar sebelumnya belum memiliki media panduan tertulis mengenai regulasi emosi mandiri yang sesuai dengan karakteristik permasalahan spesifik di lembaga tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, Tim Pengabdi FPsi UNM merancang intervensi melalui psikoedukasi, latihan simulasi, dan penyusunan modul yang terstandardisasi.
Tim pengabdi menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, baik bagi para terapis maupun pihak manajemen Liebe Center Makassar. Keterampilan yang telah diperoleh diharapkan dapat terus dipraktikkan secara konsisten, sementara Modul EMO-RE diharapkan dapat dimanfaatkan.
Dari pihak mitra, Pimpinan Liebe Center Makassar yaitu Nur Hafidzah Tanawali turut menyampaikan harapan agar kerja sama dengan FPsi UNM dapat terus berlanjut di masa mendatang, sehingga modul yang telah diserahkan dapat dijadikan materi wajib dalam proses onboarding bagi terapis baru, serta program serupa dapat direplikasi pada lembaga pelayanan sejenis.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan psikologi diimplementasikan secara nyata dalam menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga mitra dinilai berjalan secara sinergis dalam upaya mewujudkan lingkungan pelayanan tumbuh kembang anak yang profesional, aman, adaptif, dan terpercaya.











