LPM Psikogenesis

LPM Psikogenesis
LPM Psikogenesis

Pameran Photovoice Hadirkan Cerita, Harapan, dan Makna dari Perspektif Peserta Didik

Foto Bersama Pameran Photovoice

Sumber: Dok. Pribadi

Tim pengabdian Universitas Negeri Makassar (UNM) bekerja sama dengan pihak sekolah menyelenggarakan Pameran Photovoice bertajuk “Suara di Balik Perjalanan Belajar” di SMK Kehutanan Sulawesi Selatan, pada Kamis (18/06). Kegiatan ini merupakan ruang ekspresi bagi peserta didik untuk menyampaikan pengalaman mereka melalui foto dan narasi.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Kerja Sama, Guru, Tenaga Kependidikan, Peserta Didik, serta Tim Peneliti UNM yang dipimpin oleh Eva Meizara Puspita Dewi.

Eva Meizara Puspita Dewi selaku Pemimpin Tim Peneliti UNM mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dibentuk agar peserta didik dapat mengungkapkan pengalaman, harapan, hingga tantangannya selama masa sekolah. Ia menilai bahwa nilai akademik belum mampu menjadi alat untuk menilai pengalaman belajar peserta didik secara keseluruhan.

“Pengalaman belajar di sekolah tidak selalu dapat diungkapkan melalui angka rapor atau nilai akademik. Ada cerita, harapan, tantangan, bahkan kebahagiaan yang tersimpan di balik perjalanan setiap peserta didik,” ucap dosen yang akrab disapa Eva.

Belajar Mendengar Suara Siswa Melalui Photovoice

Eva menjelaskan bahwa Photovoice merupakan metode partisipatif yang menggunakan foto sebagai media untuk mengungkap pengalaman, pandangan, dan realitas individu. Menurutnya, melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek aktif.

“Photovoice menggunakan foto sebagai media untuk mengungkap pengalaman, pandangan, dan realitas yang dialami individu, peserta didik tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi juga menjadi subjek yang aktif menyampaikan cerita mereka sendiri,” jelasnya.

Selain itu, Eva juga mengungkapkan bahwa Tema “Suara di Balik Perjalanan Belajar” dipilih untuk mengangkat berbagai pengalaman peserta didik di sekolah. Peserta didik akan memamerkan sebuah foto yang dilengkapi narasi untuk menjelaskan makna dari gambar yang dipamerkan.

 “tema dipilih karena mengangkat berbagai pengalaman akademik, kebahagiaan, tantangan, dan harapan peserta didik selama menjalani proses pendidikan. Setiap foto yang dipamerkan dilengkapi dengan narasi yang menjelaskan makna di balik gambar yang dipilih,” ungkapnya.

Pameran ini menghadirkan puluhan karya siswa yang menggambarkan berbagai sisi kehidupan belajar, mulai dari perjuangan menghadapi tantangan akademik, makna persahabatan, dukungan keluarga, hingga impian dan cita-cita di masa depan.

Walking Gallery: Mengapresiasi Karya dan Cerita

Eva menyebutkan bahwa karya photovoice peserta didik dipamerkan melalui kegiatan Walking Gallery. Pada sesi ini pengunjung diajak mengamati serta mengevaluasi karya-karya photovoice yang dipamerkan. Tidak sekedar melihat foto, pengunjung diajak untuk memahami cerita yang tersimpan di balik setiap gambar. Suasana pameran menjadi ruang dialog yang mempertemukan pengalaman peserta didik dengan refleksi para pengunjung.

“Salah satu sesi yang paling menarik adalah Walking Gallery, peserta dan pengunjung diajak berkeliling mengamati karya-karya photovoice yang dipamerkan. Pengunjung juga diberikan kesempatan untuk memberikan apresiasi melalui penempelan stiker pada karya yang dianggap paling berkesan serta mengisi formulir evaluasi kegiatan,” ujarnya.

Pameran Photovoice

Sumber: Dok. Pribadi

Sharing Session: Ketika Foto Menjadi Suara

Kegiatan dilanjutkan dengan sharing session yang menghadirkan siswa partisipan. Eva menilai bahwa sesi ini memperlihatkan kekuatan foto sebagai medium ekspresi. Kegiatan menunjukkan bahwa foto dapat menjadi media ekspresi yang mengutarakan kisah yang tidak dapat disampaikan langsung.

“Beberapa siswa partisipan berbagi pengalaman mengenai proses pembuatan photovoice, alasan memilih foto tertentu, serta pesan yang ingin mereka sampaikan melalui karya tersebut. Peserta didik menunjukkan bahwa sebuah foto dapat menjadi medium yang kuat untuk mengungkap pengalaman yang terkadang sulit diutarakan secara langsung. Cerita-cerita yang dibagikan memperlihatkan bagaimana sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter, harapan, dan identitas diri,” jelasnya.

Evaluasi Pengunjung: Foto Tidak Lagi Sekadar Gambar

Salah satu indikator keberhasilan kegiatan terlihat dari respons pengunjung yang menuliskan kesan dan pesan pada papan evaluasi yang disediakan panitia. Berbagai komentar menunjukkan bahwa pameran berhasil menyentuh aspek kognitif maupun emosional pengunjung. Beberapa komentar yang muncul antara lain:

“Komunikasi bisa dalam gambar dan tulisan untuk mendapatkan solusi.”

“Foto dan kata-kata yang menyentuh hati.”

“Foto bukan sekadar gambar, tapi menceritakan kisah.”

“Ini bukan hanya foto, tetapi cerita yang tak sempat didengarkan.”

“Setiap foto memiliki cerita, setiap cerita memiliki makna.”

“Ternyata setiap momen punya kesan dan pesan.”

Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa pengunjung memahami photovoice bukan sekadar karya visual, tetapi sebagai media komunikasi yang mampu menyampaikan pengalaman hidup, emosi, dan pesan sosial secara mendalam. Selain itu, banyak pengunjung mengapresiasi kreativitas peserta didik dengan memberikan komentar seperti:

“Anak-anak yang kreatif, salut.”

“Generasi hebat, tangguh dan kuat.”

“Bahagia bisa melihat karya siswa.”

Respons ini menunjukkan bahwa pameran tidak hanya menjadi sarana ekspresi bagi peserta didik, tetapi juga menjadi ruang apresiasi terhadap potensi dan kreativitas mereka.

Menumbuhkan Empati dan Perspektif Baru

Analisis terhadap komentar pengunjung menunjukkan adanya beberapa dampak positif dari kegiatan ini. Pertama, photovoice berhasil meningkatkan kemampuan pengunjung untuk melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. Banyak pengunjung menyadari bahwa setiap foto dapat dimaknai secara berbeda tergantung pengalaman dan perspektif masing-masing. Kedua, kegiatan ini mendorong tumbuhnya empati. Pengunjung tidak hanya melihat objek dalam foto, tetapi juga memahami pengalaman, perasaan, dan harapan yang ingin disampaikan oleh pembuat foto. Ketiga, photovoice berhasil memperkuat refleksi diri. Pengunjung menyadari bahwa peristiwa-peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari ternyata menyimpan cerita dan makna yang berharga.

Dari Pameran Menuju Perubahan

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, tim UNM juga menyerahkan policy brief kepada pihak sekolah sebagai bentuk kontribusi akademik dalam pengembangan lingkungan belajar yang lebih responsif terhadap suara peserta didik. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang proses transfer pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana mendengarkan pengalaman siswa, memahami kebutuhan mereka, dan menciptakan ruang partisipasi yang bermakna.

Penutup

Pameran Photovoice “Suara di Balik Perjalanan Belajar” menjadi bukti bahwa sebuah foto dapat berbicara lebih dari sekadar gambar. Di balik setiap karya terdapat cerita, pengalaman, harapan, dan suara yang selama ini mungkin belum terdengar. Melalui kegiatan ini, peserta didik diberi kesempatan untuk menyampaikan perspektif mereka, sementara para pengunjung diajak untuk mendengar, memahami, dan merefleksikan makna di balik setiap perjalanan belajar.

 

psikogenesis.org

psikogenesis.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts